JALAN SANTAI DI KAMPUNG

Pagi ini terlihat mendung, memaksaku untuk tetap tergolek di tempat tidur. Tapi, niatku bulat, pagi ini, ku mau olah raga, dengan lari-lari kecil menyusuri jalanan sepi. Jalanan Sarawak, tepatnya di Kampung Kuala Segan. Kampung ini terletak di Bintulu, Sarawak, Malaysia.

Olah raga kecilku pagi ini, di mulai dari mess ku, yang terletak di pabrik kayu lapis (plywood), dengan nama pabrik CAIRNFIELD, punya nya WTK Group. Ku keluar mess, sekejap saja, sebelum keluar, ku harus melewati gerbang dengan penjaga satpam orang Jawa, Trenggalek.

‘pagii Pak.., saya mohon ijin, mau keluar untuk lari pagi..!!’,teriak saya sambil lari di depan pos satpam itu.

‘iya ya.., marii..!!!’, teriak pak satpam yang berjanggot itu sambil sedikit tersenyum.

welcome Kuala Segan Sarawak

welcome Kuala Segan Sarawak

Ku langsung menuju jalan raya, jalan beraspal. Sebenarnya, ku dulu pernah sebulan tinggal di pabrik ini, tapi belum pernah jalan-jalan. Baru sekarang. Eh.., jalanannya bagus juga. Meski itu jalan hanya untuk menuju satu kampung, dan penduduknya tidaklah banyak, ternyata dubuatkan jalan dengan begitu permanen. Bak jalan kabupaten kalau di Indonesia.., hehe.

jalan sarawak okey pisan

jalan sarawak okey pisan

jalan sarawak okey bgt

jalan sarawak okey bgt

Jalan di Sarawak

Sambil menenteng  kamera digital, ku lirik kiri kanan untuk mencari objek gambar yang bagus. Yang terpikir hanya, ‘kok Malaysia bagus ya infrastrukturnya?’, itu saja. Sehingga dari pikiran itu, yang ku foto ya berhubungan dengan pergolakan isi kepala.

Meski jalan itu menuju ke kampung, tapi mulusnya, dan lebih terawatt. Padahal kalau di lihat, jalan itu mungkin dianggap tidak lah begitu vital kalau menurut ukuran Indonesia, karena Cuma untuk menuju satu kampung. Tapi inilah kenyataannya. Bahkan saya pernah berbincang dengan warga asli Sarawak. Katanya, ‘kalau di sini itu, jalan-jalan ke kampung-kampung, pasti ditata dengan baik, sehingga pergerakan ekonomi dari masyarakat pedalaaman untuk menuju ke kota akan lebih cepat.’ Itulah kata dia. Ku pun hanya terheran-heran dan takjub, mengingat kebijakan macam itu sulit ditemukan di negeri kolam susu, Indonesia Raya.

Kalau dilihat dari kondisi alamnya, Sarawak sama persis dengan Kalimantan. Entah itu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan lainnya. Seperti ini lah, ada rawa-rawanya, sehingga warga pun hamper semuanya membangun rumah dengan posisi tiang lebih tinggi supaya terbebas dari banjir air rawa ketika musim  hujan tiba.

rumah penduduk dengan tiang tinggi dan jembatan

rumah penduduk dengan tiang tinggi dan jembatan

Selain itu, Sarawak memang termasuk daerah industry, khususnya Bintulu ini. Daerah industry didominasi olehpabrik kayu. Entah itu kayu lapis, sawmill, dan lainnya. Kepedulian pemerintah Sarawak khususnya, Malaysia umumnya, meski daerah Sarawak memiliki lokasi yang masih jarang penduduknya, tapi pihak kerajaan sudah mengelola sampah pabrik dengan rapi. Hal itu terbukti dengan adanya tempat pengolahan sampah kayu yang dilokalisir secara khusus.

Maaf kalau cerita ini loncat-loncat, karena cerita ku berpatokan pada urutan foto yang ada di kamera hasil jepretan tadi pagi.., hehe..

Sekarang bercerita tentang listrik. Listrik di Sarawak, selama aku ada di sini, dulu pernah 6 bulan, seringnya 2 bulan, tak pernah padam. Tak ada cerita byar pet. Nyala terus. Dan yang bikin ku mengerutkan dahi, ternyata sebagian tiang listrik terbuat dari kayu. Kayu apakah itu?, ku belum punya jawaban. Mungkin kayu khas Pulau Kalimantan. Kalau kit abaca dari berbagai sumber, dinyatakan bahwa kayu yang kuat dan biasa digunakan untuk konstruksi di Pulau Kalimantan yaitu damar putih dan kayu ulin. Terlihat tiang listrik itu, sampai berjamur menandakan sudah berusia, tapi masih berdiri kokoh. Pernah juga aku ngobrol dengan penduduk dayak. Mereka bercerita bahwa, kayu ulin itu bagus untuk atap rumah, tiang rumah, bahkan tangga-tangga di depan rumah. Meski kayu ulin kena perubahan cuaca, panas-dingin, hujan-kemarau, tetap saja kuat. Kekuatan kayu ulin, kata penduduk dayak, lebih kuat disbanding besi atau beton.

Tiang listrik dari kayu

Tiang listrik dari kayu

Itulah sekilas tiang listrik. Kemudian merembet ke bentuk rumah yang ada di Sarawak. Sarawak ini memiliki bentuk rumah penduduk tradisionalnya sama dengan bentuk rumah adat orang Dayak di beberapa daerah di Kalimantan. Yaitu bentuk rumah dengan tiang tinggi, dan beranjung. Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung (Wikipedia). Untuk lebih lengkap tentang rumah Dayak, khususnya Banjar, bisa diklik disini http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Banjar#Bagian_dan_Konstruksi_Rumah_Tradisonal_Banjar, dan sumber lainnya. Dan kalau saudara mau lebih tahu lagi tentang suku Dayak, bisa mampir sejenak ke sini: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak.

Nah.., cerita masih berlanjut. Sambil lari-lari kecil, ku lirik kiri dan kanan, tetap.., untuk cari objek gambar.., hehe.. Kebetulan waktu itu ku sudah sampai di tengah Kampung Kuala Segan. Aku langsung masuk ke gang kecil. Dan ternyata, gangnya juga masih beraspal rapi. Gang beraspal itu putus, disambunglah dengan jembatan. Dan terlihat di sebelah kiriku, ada rumah-rumah dengan ditanami padi di depannya, karena lantai tanahnya berair, sehingga cocok untuk padi seperti padi khusus sawah kalau di Kalimantan. Sawah itu kebetulan sedang berbuah. Untuk melindungi buahnya agar tidak diambil burung, penduduk Kampung Kuala Segan, memagar sawah yang ada di depan rumahnya dengan paranet. Selain itu, dilengkapi dengan lonceng-lonceng dari bekas kaleng susu. Kaleng itu sesekali digoyangkan dari dalam rumah, dengan memakai tali pengendali yang dibentangkan dari dalam rumah-rumah mereka…, kletrek.., kletrek.., trek.., trek..!!!’, itulah suara lonceng-lonceng dari kaleng bekas wadah susu itu.

Nah.., masih ada lagi yang membuat saya kagum dengan Pemerintah Malaysia terhadap begitu perhatiannya terhadap kesejahteraan warganya, meski warganya itu berada di peloksok. Di kampung-kampung sudah masuk air bersih, berupan pam. Hal ini bisa dilihat dari sekian banyaknya pipa air yang bisa kita temuai di sepanjang pinggiran jalan. Maklum, air rawa tidak begitu baik, mungkin, sehingga pemerintah menyediakan program air bersih.

pipa air bersih

pipa air bersih di tengah kampung

Satu hal lagi yang membuat beda, antara orientasi masyarakat Malaysia dengan Indonesia. Di Malaysia, masyarakatnya memiliki mobil meski rumahnya masih sederhana, bahkan belum memiliki rumah, tapi mobil sudah punya. Saya juga mengerutkan dahi dengan sedikit ketawa lucu, satpam saja bawa mobil. Itulah di Malaysia, khususnya Sarawak. Berbeda dengan masyarakat Indonesia, mobil itu kebutuhan tersier. Rumah kebutuhan primer.  Ada nilai positif, ada juga negatifnya, pasti.

mobil primer rumah sekunder

mobil primer rumah sekunder

Ini barang dari Indonesia, yang diyakini oleh para TKI, adalah barang yang masuk secara illegal:

Roko NKRI

Roko NKRI

Masih, gambar rokok, dengan tempat produksi Kudus, atau Surabaya:

sawah di depan rumah

rokok illegal

inilah sawah di depan rumah.., hehe.. :)

sawah di depan rumah

sawah di depan rumah

Selain itu, masih banyak agi cerita. Tapi sekarang berlanjut saja dengan cerita barang-barang kebutuhan konsumsi sehari-hari di Sarawak. Barang-barang itu, banyak juga dipasok dari Indonesia, khususnya lewat Pontianak, Kalimantan Barat. Seperti berbagai jenis rokok. Konon, ku dapat cerita, bahwa barang-barang tersebut banyak masuk dengan cara selundupan, tanpa ijin. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa merek rokok Indonesia yang tidak dilengkapi dengan tanda atau materai pajaknya. Bugil, tanpa materai. Tapi ada untukngnya bagi TKI, harganya jadi murah, dengan cita rasa tanah air tercinta, Indonesia.., hehe.. :)

About these ads

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

2 Responses to JALAN SANTAI DI KAMPUNG

  1. itaita mengatakan:

    wah tempatnya enak keihatannya, masih alami ya, masih hijau-hijau. :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: