BENARKAH PUASA SUDAH MENYEHATKAN MUSLIMIN INDONESIA?

Bulan puasa pasti datang tiap tahun, dan beragam teori tentang puasa yang menyehatkan pun telah terukir di berbagai buku. Tapi pertanyaannya,apakah sudah bisa dicapai efek sehat dari adanya puasa itu? Pertanyaan ini cakupannya jangan jauh-jauh, untuk orang Indonesia saja.

Kalau diamati, ‘sehat’ yang dikandung oleh kegiatan puasa dan bulan puasa itu, tidak hanya ‘sehat’ lahir saja; tapi sehat batin. Tidak saja sehat individu yang melakukannya, tapi juga mnyehatkan bagi individu sekitarnya; dan an yang tak kalah penting, tidak hanya menyehatkan bagi badan (jasmani dan rohani), tapi juga menyehatkan segala sesuatu yang ada di luar badan. Apa saja “sehat segala sesuatu” yang di luar badan itu? Jawabannya adalah “banyak”. Sehat ekonomi, sehat social, sehat politik, sehat budaya, dan mungkin kalau cakupannya bagi kenegaraan, adalah sehat pertahanan, serta sehat kemanan Negara.

Sekarang jangan lah dulu dibahas semuanya. Satu hal saja, yaitu “sehat ekonomi”. Sehat ekonomi pasti timbul dari sikap Muslim Indonesia yang pandai di bidang keuangan. Pandai ngatur duit. Dan penulis rasa, kepandaian mengatur duit untuk skala pribadi tidaklah harus melewati bangku sekolah demi menamatkan akuntansi keuangan, dan lainnya; yang terpenting memiliki orientasi ke depan. Orientasi ke masa depan, cenderung dipengaruhi oleh seberapa jauh orang tersebut mempu merencanakan masa depannya. Kalau masa depannya gelap, tidak ada perencanaan untuk masa depan yang lebih baik, maka habiskanlah uang ketika bulan puasa itu. Habiskan uang ketika bulan puasa dengan dalih “gak apa-apa, demi puasa”.

Sehat secara ekonomi ini memegang peranan penting. Dikatakan memegang peranan penting, karena melalui masalah ekonomi ini, sampai setingkat Nabi ikut bicara mengeluarkan fatwanya (hadits), yang secara kasar, fatwanya berbunyi:

“himpitan ekonomi cenderung membawa pada kekufuran”.

Hadits itu sebenarnya harus kita cermatilebih dalam lagi, alih-alih di bulan puasa. Kenapa di bulan puasa barang-barang naik? Harga telur dari 13ribu di hari ke-1 ramadhan, jadi 18ribu di hari berikutnya; harga daging sapi dai 65ribu jadi 85ribu setelah beberapa hari kemudian, dan yang pasti, harga pakaian menjelang Idul Fitri ikut melonjak tinggi. Dengan dalih ‘marema’ mau lebaran. Apakah lebaran merupakan ajang pesta pora? Bukankah para sahabat di jaman Rasul dulu, mereka senantiasa meneteskan air mata ketika lebaran semakin mendekat? Kita ketahui, bahwa tetesan air mata para sahabat itu bukan merupaakn tetesan air mata bahagia, tapi tetesan air mata kesedihan. Sedih mau meninggalkan bulan puasa. Tapi apa yang terjadi dengan Muslim Indonesia? Lebaran tiba malah pesta pora. Uang yang seharusnya disumbangkan ke fakir miskin, habis dibelikan untuk membeli petasan dan kembang api. Pesta pora dengan mengadu merk baju baru. Pesta pora dengan makan-makan serba ada. Di manakah letak sehat ekonomi itu kalau keadaannya demikian?

Saya teringat masa dulu. Karena saya dibesarkan di keluarga yang kurang faham juga ilmu agama. Ketika itu, saya masih umur 6 tahunan, orang tua saya pontang panting membeli pakaian baru untuk saya dan saudara-saudara saya, demi memperingati hari lebaran. Hari lebaran di kampung saya, dan Indonesia pada umumnya, adalah memakai baju baru, celana baru, sandal baru. Sampai terjadi pertengkaran karena iri-irian antara saya dan kakak saya gara-gara bentuk dan harga sandal yang dibelikan orang tua adalah beda. Kami mau adil dalam hal pemilikan pakaian baru, tidak ada yang dimahalkan, tidak ada pula yang dimurahkan. Keadaan demikian kontan menjadikan kepala orang tua saya menjadi pusing melihat tingkah saya dan saudara-saudara saya. Tapi orang tua apalah daya, mereka mencari kembali baju dan sandal yang sama harga dan kualitasnya demi mendamaikan anak yang mau memperingati lebaran.

Nah, dari penggalan cerita saya itu, dapat diambil hikmah, apakah gara-gara lebaran sampai harus pusing kepala gara-gara memikirkan baju baru? Apakah atas nama puasa rela keluar uang lebih banyak daripada bulan biasa? Bahkan menurut pemberitaan media, terdapat remaja mencuri barang orang lain gara-gara tidak punya modal untuk lebaran. Bukankah dibulan puasa itu kalau diamati, penggunaan uang itu seharusnya lebih hemat? Karena gara-gara puasa, makan yang biasanya 3 kali menjadi dua kali. Tapi kenapa makan 2 kali tapi jatah pengeluarannya lebih besar? Alih-alih, itu semua terjadi karena keadaan masih sakit, “sakit ekonomi” gara-gara puasa.

Bayangkan, meski makan di bulan puasa adalah 2 kali, tapi kalau porsinya adalah di-jamak (dari 3 di bulan biasa, menjadi 2 di bulan puasa), itu sama saja. Kalau hari biasa itu, makan misalnya, cukup dengang 20ribu per hari untuk 3 kali makan; tapi di bulan puasa, perlu 25ribu untuk 2 kali makan. Apakah sehat keadaan demikian? Kalau memang demikian yang terjadi, maka masih jauh dari frase, “puasa menyehatkan”.

Kita amati lagi masalah makanan. Katanya puasa itu, bada lebih sehat. Kenapa lebih sehat? Karena perut dikosongkan selama lebih kurang 14jam. Memang perut dikosongkan selama 14jam itu, tapi, ketika mau berbuka, segala makanan dipersiapkan. Dari es batu sampai dengan pisang goring panas; dari keju yang empuk sampai kacang goreng yang keras; dan sebagainya. Itu semua demi ‘buka puasa’. Lantas pertanyaannya, apakah menyehatkan kalau system makanannya disekaliguskan seperti itu? Apakah menyehatkan makanan yang terlalu dingin dan terlalu panas untuk tubuh? Entah.

Teringat, saya tinggal dengan anak yang barululus SMP. Dia seperti bingung menghadapi sahur dan buka puasa. Dikit-dikit nanya,

“Pak Rudi, nanti buka puasa pake apa?”

Kemudian isya berlalu, dia nanya lagi,

“Pak Rudi, nanti sahur dengan apa?”.

Saya hanya senyum-senyum, dan kadang geleng-geleng kepala dan hati bicara,

“kok puasa serepot itu?”.

Dengan demikian, mari kita sahur dengan seadanya, berbuka seadanya, menjalani puasa syahdu, dan menyambut lebaran dengan jauh dari sifat konsumtif. Itu semua insyaalloh akan menyebabkan puasa kita menjadikan sehat pada diri dan lingkungan kita. Sehat lahir, sehat bathin, sehat segala-galanya, dan juga sehat ekonomi.

==m==

Rudi, Taman Pagelaran, Ciomas, Bogor. 8 Ramadhan 1433H (28 Juli 2012).

About these ads

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: