MANAJEMEN SPESIES INVASIF AKASIA BERDURI (Acacia nilotica (L.) Willd. ex. Del) DI TAMAN NASIONAL BALURAN, BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Oleh: Rudi Hermawan, Cory Wulan, Julius P. Siregar, Anisa Agustina

 

Makalah ini disusun berdasarkan kondisi dalam kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur dimana padang Rumput/ Savana sebagai Ekosistem penting yang merupakan ciri khas dari taman nasional tersebut telah terinvasi tumbuhan Akasia berduri (Acacia nilotica). Tumbuhan Akasia berduri yang ada di dalam kawasan taman nasional telah mengakibatkan berbagai jenis rumput-rumputan yang merupakan pakan bagi satwaliar di dalam kawasan tidak dapat berkembangbiak dengan baik dan luasannya terus menurun. Penurunan luasan savana yang cukup drastis juga mengakibatkan kompetisi antar satwaliar herbivora semakin meningkat yang akhirnya dapat menyebabkan salah satu jenis akan punah karena terdegradasi. Untuk itu diperlukan adanya suatu kajian tentang bagaimana pengelolaan terhadap jenis Akasia berduri ini sehingga tidak mengakibatkan hilangnya savana sebagai sumber pakan bagi satwaliar herbivora dan komponen penyusun habitat lainnya di dalam kawasan Taman Nasional Baluran.

Akhir kata, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Baluran terkait keberadaan Akasia berduri yang telah menginvasi kawasan taman nasional. Kami menyadari makalah ini tidaklah sempurna, untuk itu kami mengaharapkan dan menerima kritik dan saran sehingga makalah ini bisa menjadi lebih bermanfaat.

Bogor,   September 2012

Penulis

 

 

BAB I  LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Taman Nasional Baluran (TNB) merupakan kawasan konservasi penting yang memiliki padang rumput (savana) alami sebagai ciri khas dan identitas taman nasional tersebut. Kekayaan flora dan fauna yang tinggi seperti spesies-spesies rumput dan vegetasi serta satwaliar khas savana . Savana ini memiliki arti yang sangat penting untuk mendukung kelestarian ekosistem-ekosistem lainnya (Sabarno 2002 dalam Djufri 2006).

Akasia berduri (Acacia nilotica) diintroduksi ke Taman Nasional Baluran dengan tujuan sebagai sekat bakar untuk menghindari menjalarnya api dari savana ke kawasan hutan jati. Pada tahun 1969 tumbuhan  ditanam di savana Bekol dengan tujuan yang sama yaitu sebagai sekat bakar untuk mencegah menjalarnya kebakaran dari savana ke kawasan hutan (Taman Nasional Baluran 1999 dalam Hartini 2006). Kecepatan tumbuh dan penyebaran Akasia berduri  mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas padang rumput, merubah pola perilaku satwaliar herbivora yang merupakan komponen habitatnya serta lebih parahnya mengubah struktur dan komposisi vegetasi penyusun savana Baluran.

Rumput sebagai komponen utama penyusun savana Baluran telah tergeser keberadaannya oleh Akasia berduri dan menyebabkan satwa-satwa herbivor mencari alternatif pakan lain termasuk daun dan biji Akasia berduri untuk memenuhi kebutuhan pakannya. Savana yang terbuka didominasi Poaceae (rumput-rumputan) menjadi areal tertutup oleh kanopi-kanopi Akasia berduri. Hal ini menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem di TNB dimana pakan utama terus berkurang.

Akibat ekosistem savana yang semula sebagai habitat satwa liar telah menjadi hutan Akasia berduri  yang sangat rapat dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan dapat mematikan rumput sebagai pakan satwa (Mutaqin 2001 dalam Saifulloh 2002). Selain itu Akasia berduri merupakan tumbuhan yang berduri, sehingga mengganggu pergerakan satwa liar (Hasanbahri 1997 dalam Saifulloh 2002), hal ini terbukti dengan semakin sulitnya dijumpai Banteng Jawa (Bos javanicus) dan Kerbau liar (Bubalus bubalis) yang menjadi andalan Taman Nasional Baluran (Masrur 2001 dalam Saifulloh 2002).

Mimosa nilotica Tafel 595 Afbeeldingen der art...

Mimosa nilotica Tafel 595 Afbeeldingen der artseny-gewassen met derzelver Nederduitsche en Latynsche beschryvingen (1800) (Photo credit: Wikipedia)

Invasi tumbuhan Akasia berduridi savana Baluran sangat merugikan yaitu menyebabkan turunnya kualitas savana sebagai habitat satwa liar yang menjadi andalan Taman Nasional Baluran sehingga terganggunya keseimbangan ekosistem tersebut. Untuk itu perlu dilakukan manajemen terhadap invasi Akasia berduri  di Taman Nasional Baluran Jawa Timur untuk mengembalikan ekosistem padang rumput /savana sebagai ciri khas kawasan tersebut.

BAB II METODOLOGI

Makalah ini disusun berdasarkan studi literatur dari berbagai sumber seperti jurnal, disertasi, tesis, dan berbagai artikel tertulis terkait invasi savana di dalam kawasan Taman Nasional Baluran.

BAB III  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Perkembangan Invasi Akasia Berduri Sampai Saat ini dan Luasan Invasi

 

Taman nasional Baluran memiliki savana alami yang cukup luas yaitu 10.000 Ha (Mutaqin 2002 dalam Djufri 2006). Tingkat percepatan pertumbuhan akasia berduri di Baluran mencapai 100-200 Ha per tahun. Berdasarkan data terakhir tahun 2000, akasia berduri di taman nasional Baluran sudah menginvasi sekitar 50% dari luas savana atau sekitar 5000 Ha (Sabarno 2002 dalam Djufri 2006). Akasia berduri telah tersebar di hampir seluruh savana yang ada di kawasan taman nasional baluran antara lain di savana Bekol, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Dadap, Asam Sabuk, Curah Udang, Widuri dan Merak. Pada savana Kramat, Kajang, dan Balanan tumbuhan ini telah membentuk kanopi yang tertutup (BTNB 1999; Djufri 2006).

Akasia berduri umum dijumpai pada tanah dengan kandungan liat yang tinggi tetapi dapat juga tumbuh pada tanah lempung berpasir yang dalam di area dengan curah hujan yang tinggi. Umumnya tumbuh di dekat jalur air terutama di daerah yang sering mengalami banjir. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada area yang menerima curah hujan kurang dari 350-1500 mm per tahun. Spesies ini juga sangat sensitif terhadap kebekuan/dingin, dan dapat tumbuh pada area dimana rata-rata temperatur bulanan 160C (Gupta 1970 dalam Djufri 2006).

Secara alami, akasia berduri berkembangbiak dan menyebar melalui biji. Penyebaran tumbuhan ini di Taman Nasional Baluran dibantu oleh perantara air dan satwa. Pada saat musim hujan, biji-biji yang masih tertinggal di tanah dan tidak termakan oleh herbivora akan terbawa oleh aliran air. Pergesekan yang terjadi antara kulit biji dengan tanah atau batu-batu kecil menyebabkan kulit biji semakin menipis sehingga mempermudah ditembus oleh air serta dapat menstimulasi proses perkecambahan biji (Djufri 2006).

Penyebaran biji akasia berduri oleh satwa dilakukan oleh herbivora pemakan biji sebagai bahan makanan pengganti rumput-rumputan selama musim kemarau. Adanya kulit biji yang tebal dan keras, menyebabkan biji yang ditelan tidak dapat dicerna oleh satwa. Biji-biji akan berada dalam saluran pencernaan (terutama lambung) selama 12-48 jam, melalui berbagai proses aktivitas lambung, seperti pencucian, penyamakan dan penggosokan yang menyebabkan kulit biji menjadi tipis permiabel (dapat ditembus oleh molekul-molekul air). Aktivitas dan kondisi lambung herbivora dapat mematikan berbagai jenis parasit seperti larva serangga yang terdapat pada biji, sehingga meningkatkan prosentase kemungkinan biji-biji tersebut tumbuh.

Akasia berduri telah menyebar di seluruh area savana. Menurut Mutaqin (2002) bahwa penyebab utama penyebaran akasia berduri adalah satwa, yaitu satwa yang memakan daun dan biji  akasia berduri seperti banteng (Bos javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa timor (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), dan babi hutan (Serpussp.). Satwa-satwa tersebut akan membuang kotorannya di berbagai tempat, dan biji akasia berduri akan tumbuh sehingga tersebar ke seluruh kawasan. Disamping penyebaran melalui kotoran satwa, pada musim hujan biji akasia berduriyang bercampur dengan lumpur menempel pada kaki dan badan satwa kemudian jatuh di tempat lain.

Upaya penanggulangan invasi akasia berduriyang telah dilakukan dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu pemberantasan secara kimiawi, pemberantasan secara mekanik/fisik dan pemberantasan tradisional. Pemberantasan secara kimiawi dilakukan pada tahun 1985 oleh Puslitbang Dephut dengan menggunakan bahan kimia jenis herbisida sistemik yang bersifat hormon.

Akasia berduri telah tesebar di hampir seluruh kawasan savana Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, antara lain Savana Bekol, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Dadap, Asam sabuk, Curah udang, Widuri, dan Merak. Pada savana Kramat, Kajang dan Balanan tumbuhan ini telah membentuk kanopi yang tertutup (BTNB 1999, Djufri 2004b). Luas kawasan Taman Nasional Baluran adalah 25.000 ha, sedangkan untuk luas savana adalah sekitar 40% dari total kawasan taman nasional yaitu sekitar 10.000 ha (Maududie  A, Hari Sulistitowati, kahar Muzakhar  2007). Saat ini menurut (Mutaqin 2002  dalam Djufri 2006) bahwa pertumbuhan akasia berduri mencapai 100-200 ha/tahun. Data terakhir tahun 2000 akasia berduridi baluran telah menginvasi hampir 50% luas savana Taman Nasional Baluran (Sabarno 2002 dalam Djufri 2006) yaitu sekitar 5000 ha.

 

Metode-Metode yang Telah Dilakukan Oleh Pihak Taman Nasional Baluran Untuk Mengatasi Masalah Invasi Akasia Berduri

 

Upaya penanggulangan yang telah diupayakan oleh TNB selama ini dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok:

1. Pemberantasan secara Kimiawi

Upaya pemberantasan secara kimiawi telah dilakukan pada tahun 1985 oleh Puslitbang Dephut dengan menggunakan bahan kimia herbisida sistemik yang bersifat hormon yang dimasukkan ke dalam lubang pohon yang dibor setinggi dada dengan kemiringan 45 derajat (Mutaqin 2002 dalam Djufri 2006). Pada tahun 1996, PT Mitra Buana Mukti melakukan percobaan dengan melakukan percobaan dengan cara mengupas kulit batang sampai lapisan kambium (peneresan) secara melingkar selebar 15 cm dan kemudian bagian batang diolesi laritan Xarbosida garlon 48Ec.

Selain itu pada tahun 1999 pihak TNB telah berupaya melakukan pemberantasan tegakan anakan akasia berduri dan spesies gulma lainnya di areal bekas pembongkaran dengan menggunakan minyak tanah, solar, larutan ragi dan roundup (M Mutaqin 2002 dalam Djufri 2004b).

Berdasarkan hasil penelitian pemberantasan secara kimiawi terhadap akasia berduri kurang efektif dalam proses membunuh tumbuhan tersebut. Metode ini juga kurang efisien jika ditinjau dari segi biaya dan tenaga, terlebih lagi bila dikaitkan dengan luas areal dan tingginya kerapatan tegakan. Dari segi teknis penggunaan metode kimiawi di lapangan kurang praktis. Selain itu pengunaan bahan kimia herbisida di kawasan konservasi harus mendapatkan pengawasan ekstra ketat dan hati-hati karena memiliki efek samping yang dapat merugikan kehidupan satwaliar dan lingkungan.

 

2. Pemberantasan secara Mekanik.

Pemberantasan secara mekanik sudah dilakukan sejak tahun 1989-2001. Pemberantasan secara mekanik dilakukan dengan cara memotong atau menebang pohon dari tahun 1989-1991 tanpa perlakuan apa-apa. Perlakuan ini ternyata tidak memberikan dampak yang nyata terhadap berkurangnya akasia berduri tetapi semakin merangsang biji-biji yang dorman dan mempercepat pertumbuhan regenerasi vegetatif dari batang yang dilukai maupun dari tunggak yang ditinggalkan.

Pada tahun anggaran 1992-1993 dilakukan pencabutan pohon dengan menggunakan katrol. Hasil yang diperoleh optimal tetapi pelaksanaan di lapangan sangat lambat karena luas areal yang berhasil untuk dicabut tidak sebanding dengan target luas pencabutan yang telah ditetapkan. Cara ini pun dinilai kurang efektif dan kurang efisien.

Pada tahun 1993-2000 upaya pembongkaran secara mekanik dilakukan dengan alat bulldozer dan hasilnya cukup berhasil. Luas areal savana yang berhasil dibuka mencapai 409,6 ha. Metode ini dianggap yang paling cepat dan tepat dibanding metode lainnya namun berdampak negative terhadap perubahan struktur tanah. Metode ini merangsang pesatnya pertumbuhan anakan yang berasal dari biji yang jatuh saat pembongkaran dan biji yang dorman yang berasal dari kotoran satwa. Selain itu pembukaan lahan dengan bulldozer mengakibatkan permukaan tanah rusak. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan iklim mikro dan menghadirkan tipe komunitas yang berbeda. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengakibatkan semakin meluasnya pertumbuhan kelompok semak, sehingga mengakibatkan kompetisi dengan rumput dalam memperoleh ruang hidup. Hal yang sangat mengkhawatirkan lagi adalah tumbuhan semak ini tidak disukai oleh banteng dan rusa.

 

3.  Pemberantasan secara Manual Tradisional

Mengingat adanya dampak negatif dari penggunaan metode secara mekanik maka upaya pemberantasan akasia berduri pada tahun 2000 dilakukan secara tradisional yaitu metode tebang bakar. Djufri (2006) menyatakan bahwa pemberantasan akasia berduri secara mekanik pada areal bekas pemberantasan menunjukkan adanya pergeseran pola atau komposisi spesies penyusun vegetasi savana dari spesies rumput musiman ke berbagai spesies herba, perdu, dan rumput yang tumbuh menahun.

Pemberantasan secara tradisional dilakukan pada tahun 2000 dengan sistem tebang bakar. Metode ini memberikan hasil yang memuaskan, dimana tunggak yang dibakar langsung mati karena sebagian besar tunggak yang dibakar telah habis menjadi arang/ abu. Akar yang tertinggal mulai mengering dan sebagian ada yang membusuk sehingga peluang untuk tumbuh kecil. Area tegakan akasia berduri yang dibakar bisa diserang kembali oleh anakan akasia berduri dengan laju pertumbuhan yang lebih cepat dalam waktu 1-2 tahun, sehingga hasilnya untuk jangka panjang menjadi kurang berarti.

Salah satu bentuk pengelolaan terhadap invasi Akasia berduri yang  telah dilakukan BTNB hingga saat ini yaitu membuat MoU yang ditandatangani bersama perusahaan pembuat arang. Kesepakatan ini dibuat dalam rangka pembinaan habitat savana dengan cara penebangan tegakan akasia berduri seluas 50 ha. Pihak BTNB memberikan hak kepada perusahaan untuk menebang seluruh pohon akasia berduri untuk dimanfaatkan kayunya sebagai bahan baku pembuat arang dapur.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pengendalian meluasnya invasi akasia berduri serta  upaya pembinaan habitat dalam rangka memperluas area feeding ground bagi satwa. Selain itu, pihak BTNB juga telah melakukan upaya pembuatan plot permanen di dalam kawasan savana untuk mengendalikan populasi akasia berduri dengan menanam jenis rerumputan sebagai pakan satwa yang dilakukan selama kurun waktu 3 tahun (Pratiwi 2005).

 

Rekomendasi Manajemen Spesies Invasi Akasia Berduri Di Taman Nasional Baluran

 

Rekomendasi terbaik dalam mengendalikan permasalahan invasi akasia berduri di dalam kawasan TNB yaitu dengan upaya pemberantasan secara manual tradisional. Metode pemberantasan ini merupakan upaya yang dinilai paling baik secara ekologi karena dapat meminimalisir kerusakan ekosistem savana yang mungkin terjadi. Metode ini lebih baik dibandingkan dengan menggunakan metode kimiawi maupun mekanik. Keunggulan metode ini yaitu dapat menekan timbulnya kerusakan struktur tanah, tidak terjadi pencemaran tanah, serta tidak merubah iklim mikro di ekosistem savana tersebut.

Rekomendasi lain yang dapat diberikan adalah pihak BTNB melakukan kerjasama dengan masyarakat sekitar kawasan taman nasional serta bermitra dengan stakeholder lain (perusahaan-perusahaan) untuk memanfaatkan potensi bioprospektif akasia berduri mulai dari akar, daun, bunga, biji, hingga tunasnya.

Terkait kegunaan dari seluruh bagian tumbuhan akasia berduri, diharapkan pihak BTNB dapat melihat peluang bisnis berkenaan dengan potensi bioprospektif tumbuhan  tersebut.  Peluang bisnis ini dapat dikembangkan melalui kajian ekonomi lebih lanjut oleh BTNB.

 

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

 

Simpulan

 

Solusi terbaik saat ini yang dapat dilakukan untuk menangani invasi spesies akasia berduri yaitu secara tradisional-mekanis yang melibatkan masyarakat dalam prosesnya penerapannya.

Akasia berduri di padang savana harus ditangani secara serius. Jika tidak dilakukan penanganan terhadap akasia berduri, maka tumbuhan ini akan menutupi padang savana yang menjadi sumber pakan dan habitat satwa herbivora di TNB. Tertutupnya padang savana akan mengakibatkan hilangnya berbagai spesies rerumputan yang akan memicu terjadinya degradasi populasi satwaliar herbivora di TNB.

 

 

Saran

Untuk menekan laju penyebaran akasia berduri, bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan spesies tumbuhan tersebut agar menjadi barang yang berguna. Proses pemanfaatannya bisa dilakukan dengan  melibatkan masyarakat atau pihak terkait. Jenis pemanfaatannya seperti pengambilan polong dan biji akasia berduri untuk dijadikan bahan campuran makanan; pengambilan daun untuk pakan ternak; kulit kayu dimanfaatkan sebagai sumber tannin untuk herbisida; pengambilan batang untuk kayu bakar atau arang beriket; dan lain-lain.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djufri. 2006. Studi Autekologi dan Pengaruh Invasi Akasia (Acacia nilotica) (L.) Willd. ex. Del. Terhadap Eksistensi Savana dan Strategi Penanganannya di Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

 

Hartini S. 2006. Penghambatan perkecambahan biji dan pertumbuhan anakan akasia (Acacia nilotica) (L.) Willd. Ex. Del. Dengan zat penghambat tumbuh dan naungan [tesis]. Bogor: Sekolah pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

 

Saifulloh M. 2002. Dinamika Populasi Akasia Duri (A. nilotica) (L.) Willd. ex. Del. Dan Biduri (Calotropis gigantean Willd. Dryend. Ex. Ait. F) Di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Banyuwangi [skripsi]. Malang: Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang http://digilib.umm.ac.id/files/disk1/24/jiptummpp-gdl-s1-2004-muhammadsa-1192-JURNAL.pdf?PHPSESSID=42d6ee65b827a38f44956092d28ba985 [11 September 2012].

 

Qirom MA, S Andriani, F Azwar dan D Octavia. 2007. Pengaruh Pembebasan Jenis Akasia Berduri Acacia nilotica (L.) Willd. ex. Del Terhadap Komposisi Jenis Tumbuhan Penyusun Savana dan Kualitas Savana Di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol IV No. 6 hal: 573-582.

 

Sabarno MY. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. [jurnal] Biodiversitas Vol. 3 Nomor 1 hal: 207-212. [11 september 2012].

About these ads

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: