ARTI RASA JEUNG AKIBATNA

Baca pos ini lebih lanjut

Kehidupan sehari-hari seorang Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia

Ah.., tak terasa sudah pagi lagi ni.., hehe.. selamat pagi matahari, kau tak pernah kesiangan bangun hya matahari.. hehe.. ku jadi malu, karena ku kadang kesiangan bangun, padahal esok hari harus tepat waktu untuk masuk pabrik. Ya.., beginilah kehidupan seorang Tenaga Kerja Indonesia.., ada asyik ada tidaknya.., tapi.., semoga lah barokah walafiah.., hehe.., aamiin ya Alloh..

hehe.., emang tetap saja ada sesuatu yang menarik untuk ditelisik. Suatu saat, malam jum’at waktu itu, ku ikut yasinan di masjid, orang Serawak menyebut masjid dengan ‘surau’, kebetulan ada kumpul-kumpul untuk menikmati makanan alakadarnya di masjid.  Di perkumpulan terebut, para TKI yang sempat ikut yasinan ya dapet makanan, dan bisa sharing (berbagi cerita) dengan TKI yang Baca pos ini lebih lanjut

Cinta dan Kasih Sayang Ibu Memang Tak Mengenal Waktu

Ketika masih belum terbentuk di perut Ibu, entak di mana daku berada. dengan Cinta dan kasih sayang seorang Ibu, akhirnya ku bisa tercipta ke alam yang begitu indah ini, alam dunia. Memang, tak satupun orang dapat menyangkal, cinta dan kasih sayang Ibu tidak ada Baca pos ini lebih lanjut

KEARIFAN LOKAL NUSANTARAKU

Bahasa Indonesia: Orang suku Asmat dari Papua,...

Bahasa Indonesia: Orang suku Asmat dari Papua, foto diambil di TMII, Jakarta (Photo credit: Wikipedia)

Basa Sunda: salah sahiji juru kampung di Kanek...

Basa Sunda: salah sahiji juru kampung di Kanekes, Baduy (Photo credit: Wikipedia)

English: A family of Baduy, Banten Indonesia.

English: A family of Baduy, Banten Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

by Rudi Hermawan Oke on Sunday, July 10, 2011 at 9:16am

Dengan beragamnya budaya, maka beragam pula cara menghadapi suatu masalah terkait keperluan hidup. Misal, dalam mengobati suatu penyakit sakit sariawan (barusuheun; Bahasa Sunda). Penyakit tersebut di Sulawesi Selatan bisa memakai getah kayu lame (alstonia scholaris), di Jawa Barat biasa memakai getah kayu kalapa tiung (nama ilmiah belum dicari). Dari contoh itu, bisa diprediksi bahwa, betapa banyaknya ragam potensi untuk mengobati suatu penyakit, sehingga jika suatu sumberdaya habis, maka bisa beralih ke sumberdaya yang lain untuk mengobati suatu penyakit tersebut, dengan syarat, harus mengetahui terlebih dahulu cara-cara Baca pos ini lebih lanjut

PENIPUAN LOWONGAN KERJA YANG MENGATASNAMAKAN PT KALTIM PRIMA COAL (KPC)

Sekitar 2 Mei 2016 saya membuat lamaran kerja di beberapa situs internet. diantaranya perusahaan tambang batubara. Saya mendapat lowongan atas nama PT Kaltim Prima Coal (PT KPC). PT KPC membuka lowongan untuk beberapa formasi, yaitu bidang minning dan logistic. Ketika suatu pagi pada tanggal tersebut saya kirim emaillamaran, sore harinya mendapat respon. Respon tersebut berisi bahwa saya diundang untuk wawancara kerja Baca pos ini lebih lanjut

JENIS KAYU AKASIA (Acacia mangium, A. crassicarpa, A. decurent) dan EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) UNTUK KAYU LAPIS (plywood).

Oleh Rudi Hermawan, SHut., MSi.

Gedung Manggala Wanabakti, Lantai 5, Ruang Rapat PHPL, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jakarta, 12 Mei 2016.

Selama melakukan rapat terkait pembahasan PROPOSAL TEKNIS PERMOHONAN IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (IUPHHK-HTI) suatu unit manajemen yang hendak membuat hutan tanaman industry (HTI) di Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kapuas Hulu, dan luasan sekitar 32.931,9 Ha, terdapat diskusi mengenai jenis yang akan ditanam. Jenis yang akan ditanam Baca pos ini lebih lanjut

MASA DEPAN TENAGA KERJA INDONESIA

Apakah Depnaker (Departemen Tenaga Kerja) memberikan pelatihan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terkait kehidupan masa depan TKI tersebut? Inilah diskusi yang mengalir begitu saja bersama teman kontrakan yang sedang menempuh S-3 di salah satu perguruan tinggi ternama di Negeri ini. Menurut teman kontrakan itu, kalau diperhatikan, Depnaker mungkin memiliki banyak agenda atau kemasan acara yang isinya berisi ‘pelatiahan’ untuk tenaga kerja, termasuk untuk tenaga kerja lintas batas Negara, TKI. Tapi, apakah dari Depnaker sendiri pernah membahas tentang masa depan TKI jika TKI tersebut telah kembali Indonesia? Jawabannya: “sepertinya tidak ada”. Atas dasar itulah, saya mencoba menuliskan hasil diskusi itu, semoga bisa menjadi salah satu jalan cerah bagi para TKI setelah kembali ke Indonesia.

Tidak dipungkiri, banyak yang menjadi TKI itu adalah lulusan SMA atau sederajat. Mereka masih potensial untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tapi, banyak TKI yang merupakan lulusan SMA itu tidak sadar akan potensi yang dimiliki. Tak sedikit dari TKI tersebut hanya memenuhi benaknya hanya dengan satu kata, ‘uang’. Setelah pulang dari negeri orang, dengan membawa uang tidak sedikit, beberapa TKI lulusan SMA itu asyik menghabiskan uang yang dibawanya dari luar negeri, padahal uang pasti bukanlah diperoleh dengan ongkang-ongkang kaki. Penah ada satu cerita dari teman kuliah saya, bahwa dia punya teman SMA di kampungnya, sebut saja Joko. Setelah lulus SMA, Joko langsung mengambil kursus bahasa Korea. Mahir berbahas Korea, dia jadi TKI Korea, dan berhasil dari segi uang. Keberhasilannya itu dibuktikan dengan membangun rumah, membeli kendaraan, dan sebagainya. Setelah lima tahun, Joko habis kontrak. Dia pulang ke Indonesia dengan gaya begitu keren, baju bermerk, tampilan kelas atas. Setelah ada di kampung halaman dia tinggal di kampung halaman, menikmati uang hasil jerih payahnya, termasuk rumah baru yang berhasil dia bangun bermodalkan keringatnya sendiri. Beberapa tahun kemudian, label baru disandang olehnya, yaitu lbel ‘pengangguran’. Dengan label pengangguran yang dia sandang, uang hasil dari Negeri ginseng Korea pun telah habis. Akhirnya, ya tetap pengangguran, paling-paling bantu orang tua ke ladang, kalaupun tidak mungkin serabutan ini itu.

Kalau dicermati, Joko dalam cerita di atas, memiliki potensi untuk memperbaiki diri melalui jalur pendidikan. Memperbaiki diri melalui jalur penddikan, yaitu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bermodalkan ijazah SMA dan uang hasil kerjanya jadi TKI. Tapi kenapa Joko kok tidak mau melanjutkan sekolah? Apa yang salah? Lagi-lagi, teman kontrakan saya yang sebentar lagi lulus S-3  itu bercerita, “mungkin aja Mas, TKI itu menjalani kisah seperti itu karena tidak ada yang mengarahkan, terutama untuk masa depannya. Karena bisa kita maklumi, lulusan SMA yang masih labil, jika kurang bimbingan maka tidak menutup kemungkinan mengambil jalan hidup yang kurang tepat”.

Saya bertanya: “kurang tepat gimana Pak maksudnya?”

Teman kontrakan menjawab: ‘ya.., kurang tepat dalam hal manajemen keuangan, manajemen masa depan, manajemen pola piker, dan lain sebagainya”.

Saya hanya manggut-manggut. Dan teman kontrakan menambahkan lagi pembicaraan,

“Kalau TKI itu memiliki manajerial yang bagus akan keuangannya, dan dia adalah lulusan SMA, maka dipastikan dia akan lebih memilih melanjutkan mencari ilmu sepulang kerja di luar negeri tersebut”. Karena menurut teman saya itu, ilmu atau pendidikan adalah salah satu investasi yang tak pernah rugi.

TKI lulusan SMA itu banyak juga dikirim ke Malaysia. Itu yang saya tahu langsung dari lapangan. Mereka dikirim oleh Kepala sekolahnya yang bekerja sama dengan agen PJTKI (Penyalur Jasa TKI). Anak SMA itu tidaklah dibekali strategi ke depannya setelah selesai jadi TKI. Yang ada, siswa-siswi yang dikirim itu hanya dibekali dengan alasan ‘langitan’, yaitu ‘praktek kerja lapang’ (PKL) supaya menjadi tenaga kerja yang handal. Nyatanya? PKL yang dijanjikan tersebut hanya isapan jempol belaka. Yang jelas, telah terjadi ‘pemaksaan’, atau eksploitasi anak oleh PJTKI bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengirimkan anak sekolahan untuk menjadi TKI. Yang diuntungkan hanya pihak sekolah dan PJTKI itu. Untung yang mereka peroleh berupa komisi selama minimal satu (1) tahun dari kerja banting tulang yang dilakukan siswa-siswi yang dikirim tersebut ke negeri antah-berantah.

Malam ini, saya menulis semaunya saja, tidak melihat isi tulisan ke mana arahnya, tidak memperdulikan urutan kata dan kalimat. Yang ada di kepala, langsung aja. Yang jelas, untuk menyikapi lulusan SMA yang jadi TKI, diharapkan sepulang ke Indonesia itu, dia melanjutkan kuliah. Karena kalau tidak, paling-paling uang yang didapat itu dibuatkan rumah. Kalau udah jadi rumah, apakah cukup masa depan dengan sebuah rumah tanpa persiapan lain? Kalau uang itu dipakai untuk melanjutkan pendidikan, maka dengan pendidikan (ilmu) yang dimiliki, masa depan anak tersebut akan terjamin. Paling tidak dia akan lebih tahu mengenai masa depan yang bisa diraihnya dengan sukses.

Jangan baru jadi TKI, terus uang dihamburkan untuk beli ini itu, dan yang dibeli bukanlah merupakan kebutuhan pokok (primer), tapi cenderung kebutuhan sekunder atau tersier. Mungkin para TKI lulusan SMA itu ada juga yang berpendapat seperti berikut. Yaitu beranggapan bahwa, percuma melanjutkan pendidikan juga, karena tak sedikit sarjana atau diploma yang nganggur. Memang pendapat itu benar kalau dilakukan standarisasi penilaian akan hakikat sukses itu hanya dengan uang. Sedangkan sukses itu bukanlah uang yang menjadi standar penilaiannya. Sukses kalau dalam kitab suci Al-Quran yaitu berhasilnya seseorang menjalani proses –apapun itu– dengan baik dan benar’. Dimana standar “baik dan benar” yang dimaksud adalah “baik dan benar” yang sesuai dituntunkan oleh syariat. Ketika sesorang telah melakukan atau menjalani proses dengan baik dan benar, tapi ternyata di akhir tidak bisa memetika ‘buahnya’, maka itu tidakah orang itu merugi, karena Allah akan membalas amal ibadah hambaNya dengan balasan setimpal. Atau dengan kata lain, urusan hasil akhir hanya Allah SWT yang menentukan. Dan hasil akhir bukanlah satu-satunya standar yang bisa dijadikan sukses atau gagalnya seseorang. Sukses lebih dinilai dari proses, bukan hasil akhir.  Maka dari itu, tidaklah benar pendapat bahwa meski sudah melanjutkan sekolah, masih banyak sarjana yang nganggur.

Dan satu lagi, mungkin ini pola piker dari beberapa orang tua yang kurang tepat. Tidak jarang kita mendengar, orang tua berpesan:

“Nak.., sekolah yang tinggi ya.., supaya kamu nanti dapat pekerjaan yang bagus, dapat uang yang banyak..”. sekilas, pesan itu seperti benar. Padahal salah. Kenapa salah? Karena hakikat sekolah itu mencari ilmu. Bukan mencari jabatan atau kedudukan, atau mencari pekerjaan. Jabatan, kedudukan, perkejaan, itulah hanya ‘hasil ikutan’ atau ‘embel-embel’ dari ilmu yang bisa diterapkan oleh si anak setelah lulus mengenyam pendidikan di sekolah. Jadi, perlu diluruskan pandangan yang kurang tepat dari beberapa orang tua tersebut.

Maka dari itu, untuk adik-adik yang lulusan SMA dan kebetulan sedang menjadi TKI, maka segera rencanakan untuk melanjutkan kuliah setelah selesai menjadi TKI. Tempat kuliah yang memungkinkan yaitu di perguruan tinggi swasta. Karena, perguruan tinggi swasta tidak ada pembatasan umur. Berapapun boleh, yang penting sehat.

Untuk Depnaker, diharapakn ada pelatihan untuk TKI setelah TKI itu kembali ke Tanah air. Jangan sampai setelah kembali ke tanah air jadi pengangguran lagi. Selain itu, perhatikan juga PJTKI yang nakal, tak sedikit mereka menyalurkan TKI di bawah umur, atau dengan menjanjikan hal-hal yang manis kepada calon TKI padahal nyatanya ‘pahit’.

Untuk sekolah swasta, hati-hati, tak sedikit PJTKI yang membohongi kerjasama dengan dalih PKL untuk siswa-siswi, padahal mereka (PJTKI) hanya ingin meraup keuntungan sebelah pihak dari kerjasama itu. Saya punya pengalaman lapang terkait hal ini. Kalaupun pihak sekolah tertentu mau berkonsultasi mengenai masalah PJTKI seperti itu, saya siap membantu.

Kembali pada filosofi utama:

“Ilmu adalah investasi yang paling menjanjikan”.

“Tak pernah merasa rugi akibat bersekolah”.

Semoga berkah.

(Masjid Al-Hurriyyah, Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor, 11 // oktober//2013)

POLITIK INDONESIA

Pernahkan kita memperhatikan ulah para politikus di Indonesia?

Ambil contoh, dalam hal sosialisasi calon kepala daerah, misal Bupati. Mereka memasang baner, baliho, atau media social lainnya di pohon dengan cara melukai pohon-pohon itu. Contoh kasus melukai pohon adalah mengikat pohon dengan kawat, dengan plastic, dan sejenisnya dengan tanpa melepas kembali ikatan itu. Atau, beberapa kasus memaku pohon dengan paku besi. Pasti pohon terluka. Pohon yang terluka, tidak hanya Baca pos ini lebih lanjut

MENGHANGATNYA ISU GAMBUT DI DUNIA

Oleh: Rudi Hermawan E451120061

Isu pemanasan global begitu menarik untuk dicermati. Menurut Indriastuti (tanpa tahun) Sejak 1850 gletser Alpine telah kehilangan lebih dari 2/3 dari volume aslinya. Pada tahun 2100, diperkirakan hanya 5% gletser yang akan bertahan. Suhu tinggi juga memiliki pengaruh besar terhadap produksi hasil panen. Suhu hangat akan menyebabka Baca pos ini lebih lanjut

PERAN PEMUDA DALAM MODERNISASI KOPERASI YANG BERLANDASKAN KEARIFAN TRADISIONAL

Kita ketahui bahwa sejak koperasi berdiri di Indonesia tahun 1895, yang digagas oleh Sang Patih Purwekerto, Raden Ario Wiraatmadja, sampai sekarang tidak luput dari keberhasilan dan kegagalan; kadang pasang naik, kadang pasang surut (Nuramin, 2011). Fluktuasi jalannya koperasi tersebut terjadi sejak awal digagas pembentukan koperasi pada tahun 1895 hingga masa-masa diberlakukannya Undang undang baru tentang Pokok-pokok Koperasi (UU No.12 tahun 1967). Sejak diberlakukannya UU No.12 tahun 1967 yang merupakan hasil bentukan pemerintah orde baru, koperasi di Indonesia mulai menampakkan perkembangan meski tahap Baca pos ini lebih lanjut

PERMASALAHAN TKI INDONESIA DI MALAYSIA, KHUSUSNYA DI SARAWAK, DENGAN BIDANG PEKERJAAN PLYWOOD (KAYU LAPIS).

Menindaklanjuti akan banyaknya pertanyaan terhadap penulis seputar repotnya menjadi TKI di bidang pekerjaan kayu lapis (plywood), maka penulis menyempatkan waktu untuk membuka kembali memori yang telah terpendam beberapa bulan. Memori tentang TKI di Sarawak Baca pos ini lebih lanjut

SEMAKIN MENJAMURNYA MALL KE DESA-DESA

Mungkin, saat ini, tidak lah aneh lagi kalau kita mau melihat mall. Baik ukuran besar maupun kecil. Mall ada di mana-mana. Tapi, apakah dengan adanya mall itu masyarakat akan lebih sejahtera? Atau sebaliknya, akan lebih TIDAK sejahtera..?

Sebenarnya, pembuatan mall yang besar sudah ada peraturannya dari pemerintah. Baik lokasi Baca pos ini lebih lanjut

KENDALA DALAM PEMINDAHAN PUYUH

Bahasa Indonesia: Telur puyuh dan tempe bacem

Bahasa Indonesia: Telur puyuh dan tempe bacem (Photo credit: Wikipedia)

Hari libur kemarin, saya habiskan untuk memindahkan puyuh beserta sangkarnya, dari satu desa ke desa lain yang berbeda. Ternyata menemui beberapa kendala. Kendala-kendala tersebut adalah seperti Baca pos ini lebih lanjut

MANAJEMEN SPESIES INVASIF AKASIA BERDURI (Acacia nilotica (L.) Willd. ex. Del) DI TAMAN NASIONAL BALURAN, BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Oleh: Rudi Hermawan, Cory Wulan, Julius P. Siregar, Anisa Agustina

 

Makalah ini disusun berdasarkan kondisi dalam kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur dimana padang Rumput/ Savana sebagai Ekosistem penting yang merupakan ciri khas dari taman nasional tersebut telah terinvasi tumbuhan Akasia berduri (Acacia nilotica). Tumbuhan Akasia berduri yang ada di dalam kawasan taman nasional telah mengakibatkan berbagai jenis rumput-rumputan yang merupakan pakan bagi satwaliar di dalam kawasan tidak dapat Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.823 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: