JENIS-JENIS FLORA DAN FAUNA SERTA ANCAMAN TERHADAP KELESTARIANNYA DI CAGAR ALAM SUKAWAYANA, PALABUHAN RATU, SUKABUMI, JAWA BARAT

Oleh: Rudi Hermawan

Cagar Alam Sukawayana (CAS) merupakan salah satu Cagar Alam yang berada di bibir pantai Karang Hawu, Palabuhan Ratu. Hasil penelitian penulis, pada Juni 2009, secara administrative Kawasan CAS berada di Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Letak CAS yaitu terletak di di barat berbatsan dengan Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, di utara berbatasan dengan Perkebunan PTPN VIII Pasir Badak, Desa Sukamaju, di timur berbatasan dengan Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan di selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Keberadaan CAS sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan, maupun bagi masyarakat kabupaten Sukabumi secara umum. Keberadaan CAS ini telah sesuai dengan standar Cagar Alam yang dijelaskan dalam Undang-undang No.5 tahun 1990, tentang Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Cagar Alam adalah kawasan suaka alam karena kedaan alamnya yang memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sedangkan kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan cirri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan, yang memiliki fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan  dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

Penulis menemukan beberapa alasan yang mendasari Bukit Berhutan yang ada di Sukawayana ini statusnya dijadikan Cagar Alam oleh pemerintah. Alasan-alasan tersebut adalah:

  1. Kondisi fisik kawasan, dengan kecuraman lereng melebihi 45 derajat,
  2. Terdapatnya spesies tumbuhan langka, yaitu rotan beula (Ceratolobus glaucescens Blume) dari family Arecaceae. Hal ini dinyatakan oleh FAO (Organisasi Pangan Dunia) pada tahun 1998 dan Barlow 2003 bahwa Ceratolobus glaucescens Blume merupakan satu spesies rotan langka Jawa atau Indonesia dengan nama lokal “rotan beula”.
  3. Tipe ekosistemnya juga khas, yaitu ekosistem hutan pantai dengan bukit berbatu, serta kecuraman melebihi 45 derajat.

Adapun jenis-jenis tumbuhan yang ada di Cagar Alam Sukawayana adalah sebagai berikut:

No.Famili/ Nama Ilmiah/ Nama Lokal

 

1.Actinidiaceae/Saurauia nudiflora DC./ Ki leho

2.Anacardiaceae/ Dracontomelon magniferum Bl./Dahu

3.Anacardiaceae/ Spondias sp./ Kedondong hutan

4.Annonaceae/Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson/ Kananga

5.Annonaceae/ Polyalthia subcordata (Bl.) Bl./

6.Annonaceae/ Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook.f.& Thoms./ Nangsi

7.Annonaceae/ Uvaria purpurea Bl./ Areuy1

8.Apocynaceae/ Alstonia vilosa Scop./ Onyam

9.Arecaceae/ Ceratolobus glaucescens Blume/ Rotan beula

10.Arecaceae/ Daemonorops melanochaetes Bl./ Rotan seel

11.Bignoniaceae/ Bischofia javanica Bl./ Gadog

12.Bignoniaceae/ Bischofia javanica Bl./ Nangsi

13.Burseraceae/ Canarium commune L./ Kenari

14.Burseraceae/ Protium javanicum Burm.f./ Ki tumila

15.Clusiaceae/ Garcinia dioica Bl./ Ceuri

16.Connaraceae/ Connarus monocarpus L./ Rambutan hutan

17.Dilleniaceae/ Dillenia excelsa (Jack) Hoogl./ Sempur

18.Ebenaceae/ Dyospyros trucata ZM./ Palahlar/Kicalung

19.Euphorbiaceae/ Aporosa microcalyx (Hassk.) Hassk./ Peuris

20.Euphorbiaceae/ Aporosa microsphaera Hook.f./ Ki bodas

21.Euphorbiaceae/ Baccaurea javanica (Bl.) Muell. Arg./ Heucit

22.Euphorbiaceae/ Blumeodendron elateriospermum J.J.Sm./ Tokbray

23.Euphorbiaceae/ Chromolaena odorata (Linn.) King et Robertson/ Beleketebe

24.Euphorbiaceae/ Claoxylon polot (Burm.f.) Merr./ Huru kacang

25.Euphorbiaceae/ Drypetes longifolia (Bl.) Pax & K.Hoffm./ Angleng,kienog

26.Euphorbiaceae/ Glochidion sp./ Mareme leuweung

27.Euphorbiaceae/ Macaranga tanarius (L.) Műll.Arg./ Tisuk

28.Euphorbiaceae/ Macaranga tanarius (L.) Mull.Arg./ Mara

29.Fabaceae / Acacia auriculiformis A.Cunn. ex Benth./Akasia

30.Fabaceae/ Dalbergia pinnata (Lour.) Prain./ Saga areuy

31.Fabaceae/ Derris trifoliata Lour./ Areuy ki tonggeret

32.Gnetaceae/ Gnetum gnemon L./ Tangkil/Melinjo

33.Icacinaceae/ Platea excelsa Bl./  Dudurenan

34.Lauraceae/ Cinnamomum partenoxylon (Jack,) Meissn/ Ki sereh

35.Lauraceae/ Litsea sp./ Huru

36.Lauraceae/ Natahaebe sphatulata/ Ki taleus

37.Lecythidaceae/ Baringtonia insiginis Miq./ Songom

38.Lecythidaceae/ Barringtonia spicata Bl./ Putat

39.Marantaceae/ Phrynium capitatum Willd/ Patat

40.Meliaceae/Aglaia elliptica Bl./ Kokosan monyet

41.Meliaceae/ Aglaia heptandra K.et V./ Kilutung

42.Meliaceae/ Dysoxylum densiflorum (Bl.) Miq./ Kapinango

43.Meliaceae/ Dysoxylum excelsum Bl./ Ki Koneng

44.Meliaceae/ Dysoxylum gauchaudianaun (A.Juss.) Miq./ Kokosan monyet

45.Meliaceae/ Dysoxylum sp./ Ki Mokla2

46.Moraceae/ Artocarpus elastica Reinw. ex Bl./ Teureup

47.Moraceae/ Artocarpus glaucus Bl./ Peusar

48.Moraceae/ Ficus variegate Bl./ Kondang

49.Moraceae/ Ficus benjamina L./ Kiara

50.Moraceae/ Ficus fistula Reinw./ Beunying

51.Moraceae/Ficus septica Burm.f./Kuciat

52.Myrtaceae/  Knema intermedia (Bl.) Warb./ Mokla

53.Myrtaceae/ Syzygium polyanthum Merr.& Perry/ Salam bumbu

54.Myrtaceae/ Syzygium pycnanthum Merr. & L.M.Perry/ Ki sireum

55.Olacaceae/ Strombosia javanica Bl./Renghas/kihui

56.Pandanaceae/ Pandanus sp./ Papacingan (pandan)

57.Piperaceae/ Piper adunctum L. Fig./ Ki Papatong/Seuseureuhan

58.Piperaceae/ Piper sp./ Seureuh Leuweung

59.Poaceae/ Panicum brevifolium L./ Bayonah

60.Rhamnaceae/ Smythea lanceolata (Tul.) Summerh./ Areuy

61.Rubiaceae/ Antochepallus indicus RICH./ Jabon

62.Rubiaceae/ Nauclea lanceolata Bl./ Angrit

63.Rubiaceae/ Psychotria robusta Bl./Babadotan

64.Rubiaceae/ Tarenna dasyphylla (Miq.) Valet. ex Steen.

65.Rubiaceae/ Tarenna fragrans (Bl.) K.et V./ Kokopian/Kuhkuran

66.Rutaceae/ Glycosmis pentaphylla (Retz.) Corr./ Ki cendana

67.Rutaceae/ Micromelum pubescens Bl./ Ki baceta

68.Sapindaceae/ Lepisanthes tetraphylla (Vahl) Radlk/ Ki paray

69.Sapindaceae/ Mischocarpus sundaicus Bl.

70.Sapindaceae/ Xerospermum noronhianum (Bl.) Bl./ Rambutan hutan

71.Sapotaceae/ Chrysophyllum roxburghii  G.Don./ Taritih

72.Sapotaceae/ Parinarium corymbosum (Bl.) Miq./ Kokosan monyet (onyam)

73.Sapotaceae/ Planchonella linggensis (Burck) Pierre/ Kenung (Nyatoh)

74.Schizacaceae/ Lygodium circinatum Swarlz./ Hata

75.Sterculiaceae/ Heritiera javanica (Blume) Kosterm./ Ki dangdeur

76.Sterculiaceae/ Pterospermum diversiflorum Bl./ Carelang

77.Sterculiaceae/ Pterospermum javanicum Jungh./ Bayur

78.Sterculiaceae/ Sterculia campanulata Wall.ex Mast./ Beurih

79.Sterculiaceae/ Sterculia coccinea Jack./ Hantap leuweung

80.Sterculiaceae/ Sterculia foetida L./ Kepuh

81.Tilliaceae/ Grewia acuminata Juss./ Druak/Harikukut

82.Verbenaceae/ Premna tomentosa Willd/ Bungbulang

83.Verbenaceae/ Vitex qiunata (Lour.) F.N. Will/ Heras

84.Vitaceae/ Leea aequeta Linn./ Sulangkar

85.Vitaceae/ Vitis repens W. & A./ Karokot

Adapun jenis fauna yang ada di Cagar Alam Sukawayana adalah sebagai berikut:

  1. Mamalia:

kelelawar (Myotis sp.), babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera (lutung), peusing (Manis javanica), trenggiling (Manis javanica), dan bajing (Calosciurus nigrovitatus).

  1. Burung:

cakakak (Halycon chloris palmeri), kutilang (Pycnonotus aurigaster), paok pancawarna (Pitta guajana), wiwik kelabu (Cacomantis merulinus), cipoh (Aeghitina tiphia), tekukur (Streptopelia chinensis) dan raja udang meninting (Alcedo meninting).

  1. Reptilia dan Amphibia:

hap hap (Draco volans), toke (Gecko gecko), kadal (Mabouya multifasciata) dan sanca bodo (Phyton moleus), ular pucuk (Dryplus prasinus), bunglon (Calotes jubatus), katak pohon (Rhacophorus reindwadtii) dan biawak (Varanus salvator).

Jenis-jenis flora dan fauna yang ada di CAS tidak terlepas dari ancaman dan gangguan karena keberadaan Kawasan CAS itu sendiri terletak di kawasan di mana sekitarnya terdapat beragam kepentingan. Ancaman dan gangguan itu diantaranya sebagai berikut.

1.Pengambilan Kayu Bakar

Pengambilan kayu bakar dilakukan oleh masyarakat sekitar CAS hampir tiap hari. Masyarakat yang memungut kayu bakar dari Kawasan CAS tidak hanya warga Desa Cikakak, tapi juga  warga dari desa lain yang letaknya lebih jauh seperti Desa Cimaja, Desa Citepus, Desa Ridogalih dan desa lainnya yang ada di Kecamatan Cikakak. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, rata-rata masyarakat yang mengambil kayu bakar sebanyak 0,36 m3 jika pemungut tersebut pria, sedangkan jika pemungutnya adalah wanita maka volum kayu yang diambil setengah dari pemungut pria atau 0,18 m3. Kayu bakar dengan volume sebesar itu biasanya dapat dipakai selama 2 (dua) hari masak.

2.Aktifitas Ritual dalam Kawasan CAS

Di tengah kawasan CAS terdapat tiga titik lokasi yang dijadikan tempat ritual khususnya pemujaan. Pengunjung yang datang ke tempat pemujaan paling banyak dari luar Kecamatan Cikakak, bahkan dari luar Kabupaten Sukabumi seperti dari Ciamis, Bogor, Jakarta, Banten, Tangerang, dan lainnya. Keberadaan pemujaan tersebut sangat mengganggu keseimbangan alam yang ada di CAS. Hal tersebut diantaranya terbukti dengan adanya perilaku pengunjung yang tidak mengindahkan keadaan alami satwa-satwa yang ada, bertambahnya kawasan yang dibabat untuk tempat pemujaan baru.

3.Pemanfaatn Kawasan secara Illegal

Kawasan CAS yang terletak diantara beberapa desa tersebut ternyata dimanfaatkan juga oleh masyarakat sekitar untuk dijadikan sebagai tempat perlintasan atau jalan yang menghubungkan antar perumahan penduduk atau antar rumah penduduk dengan kebunnya sehingga menyebabkan fragmentasi kawasan. Keberadaan masyarakat yang hilir-mudik melalui jalan setapak, kawasan CAS yang sempit maka akan semakin terfragmentasi. Fragmentasi jika dibiarkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada dalam kawasan tersebut seperti terganggunya keberadaan satwa, akan punahnya tumbuhan tertentu seperti rotan beula dan terjadinya pemadatan pada tanah. Turner (1996) diacu dalam Rasnovi (2006) menyatakan bahwa beberapa faktor dalam mekanisme hubungan fragmentasi dengan kepunahan antara lain adanya berbagai macam pengaruh dari gangguan manusia baik selama deforestasi berlangsung maupun setelahnya, berkurangnya ukuran populasi, berkurangnya laju imigrasi, efek tepi hutan, perubahan struktur komunitas, dan masuknya spesies-spesies eksotik.

Rotan beula merupakan salah satu spesies tumbuhan langka yang dapat tumbuh di hutan tropika. Kebanyakan spesies asli hutan tropika memiliki penyebaran yang jarang serta tidak toleran terhadap kondisi di luar hutan, maka hutan tropika diperkirakan sangat rentan terhadap kondisi di luar hutan dan diperkirakan sangat rentan terhadap kehilangan spesies yang diakibatkan oleh fragmentasi (Turner 1996 diacu dalam Rasnovi 2006). Kepunahan spesies rotan beula akan terjadi pada waktu yang semakin cepat jika fragmentasi yang dilakukan masyarakat sekitar terhadap kawasan hutan yang menjadi tempat tumbuh rotan beula dibiarkan.

Selain terjadi pemecahan keutuhan kawasan juga terjadi karena adanya aktifitas penduduk sekitar CAS yang mendirikan warung-warung sebagai tempat berjualan, tanpa melalui ijin (illegal). Aktifitas tersebut menyebabkan Kawasan CAS semakin berkurang luasannya atau semakin sempit. Aktitas perambahan ini telah berjalan bertahun-tahun. Keadaannya bahkan bertambah dari waktu ke waktu. Tempat yang banyak dirambah terutama yang letaknya dekat dengan pantai atau yang berbatasan dengan TWA Sukawayana. Kasus perambahan kawasan ini jika terus dibiarkan besar kemungkinan di waktu yang akan datang terjadi pengakuan (privatisasi) terhadap Kawasan CAS sehingga menjadi milik perambah. Hal lain yang mungkin muncul adalah efek bola salju permasalahan (snowball effect of  problems) yaitu semakin banyak yang membuat pemukiman liar maka akan semakin susah untuk memberantasnya karena semakin banyak pihak (stake holder) yang terlibat.

Selain aktifitas masyarakat sekitar CAS yang bersifat negatif, terdapat juga aktifitas yang bersifat positif seperti terdapatnya penjaga hutan atau jagawana (polisi hutan) yang giat dalam melaksanakan tugasnya. Dengan adanya jagawana yang aktif laju kerusakan CAS pada umumnya dan habitat rotan beula pada khususnya dapat diperkecil. Selain itu terdapat beberapa lokasi dalam kawasan CAS yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar untuk tidak dirusak sehingga masyarak.

Bertolak dari berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang ada di CAS, serta beberapa karakter fisik CAS, maka keutuhan dan kelestarian CAS perlu dilindungi demi kepentingan masyarakat dan lingkungan sekitar. Perlindungan ini tidak akan bisa terwujud tanpa ada dukungan dari semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Barlow S. 2003. Multilingual Multiscript Plant Name Database. Melbourne: The University of Melbourne. World wide web: http://www.ars-grin.gov/misc/mmpnd/Ceratolobus.html[09 Juni 2009].

[FAO] Food and Agriculture Organization. 1998. Tropical Palms – Asian Region on FAO Corporate Document Repository. World web wide: http://www.fao.org/docrep/x0451e/x0451e06.htm[08 Juni 2009].

Rudi Hermawan. 2010. Kajian Ekologi Tumbuhan Langka Rotan Beula Ceratolobus galucescens Blume di Cagar Alam Sukawayana Sukabumi, Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Turner IM. 1996. Species Loss in Fragment of Trpical Rain Forest: A Review of The Evident. Journal of Applied Ecology. Diacu dalam: Rasnovi S. 2006. Ekologi Regenerasi Tumbuhan Berkayu Pada Sistem Agroforest Karet. Disertasi Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Undang-undang Republik Indonesia no.5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

7 Responses to JENIS-JENIS FLORA DAN FAUNA SERTA ANCAMAN TERHADAP KELESTARIANNYA DI CAGAR ALAM SUKAWAYANA, PALABUHAN RATU, SUKABUMI, JAWA BARAT

  1. inongforestry mengatakan:

    Kak, punya info atau jurnal atau apapun mengenai Pandanus conoideus gak…??? hehehehehe,,, makasih ya kak ^_^

  2. inongforestry mengatakan:

    hahahaha,,, rencananya seh begitu, tapi mau cari literaturnya dulu neh,, masih belum punya bacaan mengenai itu,,

    • Rudi Hermawan mengatakan:

      klo neliti ekologi itu, biasanya literatur ttg itu terbatas bgt, aku aja dulu literaturnya cuman satu buku, ama internet dari WHO.. itu aja..
      Klo dah banyak literatur na mah, gak usah diteliti atuh..🙂

  3. inongforestry mengatakan:

    Ahahahahahaha,,,,, iya juga seh kak,, ngapain di teliti kalau udah banyak peneliti yang meneliti itu… wkwkwkwk…

  4. inongforestry mengatakan:

    sekarang semester 8 kak,, wajar seh kalau lupa, soalnya pas aku masuk jurusan, kakak perkenalannya udah pake gelar S.hut. hahahahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: