MIMPIKU UNTUK JAKARTA

English: The view of Central Jakarta from the ...

English: The view of Central Jakarta from the National Monument (Ilustrasi: Wikipedia)

Tak bisa dipungkiri, kemajuan di berbagai bidang terjadi di mana-mana, di belahan dunia. Muluk-muluk mungkin terlalu luas yang di bahas. Persempit saja bahasan pada kemajuan TATA KOTA JAKARTA.

TATA KOTA JAKARTA, memang saat ini diakui oleh banyak orang, bahwa tata kotanya masih jauh dari yang diharapkan oleh berbagai kalangan/lapisan masyarakat Indonesia, baik yang berkunjung untuk sementara, maupun yang menetap di Jakarta.

Symbolizing the Indonesian struggle for indepe...

Symbolizing the Indonesian struggle for independence, and Sukarno’s virility. (Ilustrasi: Wikipedia)

Terus TATA KOTA JAKARTA yang bagaimana yang penulis inginkan? Ya, TATA KOTA yang bisa nyaman didiami, nyaman dikunjungi. Nyaman bagi siapa saja. Nyaman bagi si miskin, nyaman juga bagi si kaya. Karena tak dapat dipungkiri, yang tinggal di Jakarta itu strata sosialnya beragam.

1.Meninjau ALAT TRANSPORTASI:

Alat transportasi ini, merupakan salah satu benda yang memenuhi tiap kota di Indonesia, khususnya Jakarta. Sepertinya, kalau alat transportasi, mobil, motor; ditiadakan atau dibatasi keberadaannya untuk di dalam kota, maka akan terhindar dari masalah yang menghantui setiap waktu, yaitu ‘kemacetan’. Seandainya, kota dipenuhi oleh mobil pribadi, maka, semakin lama luasan kota tersebut akan tertutup semuanya oleh jumlah mobil pribadi, motor juga. Maka tak ada ruang untuk manusia beraktifitas. Kota bagaikan ‘garasi’ kendaraan. Manusia hanya sebagai pelengkap garasi itu, dan tinggal berhimpitan dengan milyaran mobil di kota tersebut. Itulah seandainya mobil tidak dibatasi, ekstrimnya ditiadakan, dan diganti dengan angkutan umum untuk mobilisasi penduduk kota yangjaraknya jauh. Mobilisasi penduduk dengan arah dekat, cukup jalan kaki atau menggunakan sepeda.

2.Meninjau JALAN:

Beberapa kota di dunia, telah membangun jaringan jalan berlapis-lapis, ada yang di bawah tanah, di permukaan tanah, bahkan jalan sudah terapung dengan memakai tiang (flyover). Tapi pertanyaannya, apakah luasan kota itu hanya disediakan untuk pebangunan jalan saja? Dan tidak bisa dipungkiri, kalau mobil motor semakin banyak, pasti dia butuh jalan  untuk beroperasi. Kalau tdak ada jalan, atau jalannya terbatas, maka kemacetan akan semakin tidak terurai.

Jalanan di kota, tidak dipungkiri mmbutuhkan ‘trotoar’ untuk pedestrian atau pejalan kaki. Mungkin, orang daripada pusing macet di kota dengan jarak tempuh dekat, lebih baik jalan kaki saja. Jalan kaki selain hemat, juga menyehatkan. Coba bayangkan di Jakarta saat ini, jarak 500 meter saja, memakai mobil pribadi, sekitar pukul 4 sampe 7 sore, pasti macet. Sedangkan kalau dengan berjalan kaki, rasanya menyenangkan. Tapi mau jalan kaki di mana ya kalau trotoarnya tidak ada? Atau kalau adapun sangat sempit. Coba, Jika Jakarta itu trotoarnya diperlebar, 3 kali lipat dari yang sekarang, terus jalan untuk mobil pribadinya dipersempit, kemudian jumlah kendaraan pribadinya dibatasi, sepertinya kemacetan, polusi, dan sejenisnya, akan segera enyah dari Jakarta.

Terus ada pertanyaan: Kalau mobil dibatasi, mau naik apa orang ke kantor? ke mall? ke tempat hiburan? tempat bisnis? Ya.., naik angkutan umum. Itu jawabannya. Jadi pembatasan atau bahkan peniadaan mobil di pusat kota, digantikan dengan ankutan umum. Atau angkutan umum saja yang boleh ada di Ibu Kota. Misal busway saja, kereta saja. Bajay, metromini, itu tidak perlu, karena itu hanya angkutan jarak dekat, orang bisa menggunakan sepeda kalau untuk jarak dekat.

Masalah sekarang, trotoar di Jakarta hanya pelengkap saja, bukan sarana utama. Tidak jarang trotoar saat ini hanya dijadikan sebagai tempat parkir motor, parkir mobil, tempat jualan pedagang kaki lima.

3.Fasilitas pendidikan dan ibadah

Fasiliatas pendidikan itu dipermegah, megahnya harus mengalahkan mall. Kenapa fasilitas pendidikan harus dipermegah? Karena dari pendidikan itulah manusia dihargai peradabannya sebagai manusia.

Fasilitas pendidikan ini, bisa dibuat di lahan bekas tempat kumuh.

4.Tentang tempat kumuh.

Tempat kumuh di Jakarta itu biasanya adalah tempat orang miskin dan terlantar. Nah rencananya, mereka itu diberikan rumah susun oleh pemerintah. Dilokalisasi di rumah susun itu. Kemudian bekas tempat kumuhnya dulu, bisa disulap menjadi taman kota, tempat rekreasi, tempat pendidikan, fasilitas ibadah, atau kesehatan.

5.Orang kayak wajib subsidi orang miskin

6.Pengelolaan sampah menggunakan sistem pembakaran, yang mana energi dari pembakarannya dikonversi jadi energi litrik, pemanas, dan lainnya.

BERSAMBUNG.

Semoga bermanfaat, dan semoga terealisasi, karena tidak ada yang tak mungkin untuk menjadi kenyataan selama ide itu muncul dengan dasar logika..🙂

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: