SEJARAH MASJID NABAWI

English: Inside Al-Masjid al-Nabawi

English: Inside Al-Masjid al-Nabawi (Photo credit: Wikipedia)

Diketahui bahwa terdapat 3 masjid yang diagungkan oleh Nabi Muhammad SAW:

1.Masjid Al-Aqso,

2.Masjid Al-Haram, dan

3.Masjid Nabawi.

Jika kita mengacu pada sejarah, maka kita akan dihadapkan dengan ‘tarikh’, atau ‘waktu’. Waktu atau penanggalan di bulan Hijriyah, penggantian tanggalnya terjadi di waktu “maghrib”.

#Rasulullah SAW telah menyatakan, bahwa sahabat-sahabat Beliau adalah generasi terbaik.

#Al-Hajr 59: 9

#Luas masjid Nabawi semula adalah 70 hasta x 60 hasta, atau = 30 meter x 27 meter. Setelah 7 (tujuh) tahun berangsur, dirombak menjadi 100 hasta x 100 hasta, atau = 45 meter x 45 meter.

#Semua yang diungkapkan oleh Nabi SAW, berisikan pesan yang meyakinkan. “Yakin” memiliki pengertian diantaranya yaitu “pengetahuan yang tidak tersentuk keragu-raguan”.

#Rumah pada jaman Rasulullah SAW ukurannya pendek-pendek. Hal terseut dapat dilihat dalam sejarah, tinggi Masjid Nabawi saja hanya 2,5 (dua koma lima) meter, kemudian dirobak menjadi 3 (tiga) meter.

#Pendeknya bangunan ketika jaman Rasulullah, member pesan bahwa betapa Nabi SAW untuk menganjurkan hidup sederhana. Sederhana dalam berbagai sisi kehidupan. Kalau kita perhatikan, semua tokoh sejarah peradaban di dunia, akan meninggalkan bekas-bekas bangunan yang megah dan tak terdangi; tapi, dalam Islam tidaklah demikian, karena yang dikedepankan bukanlah “simbolik” (bangunan mewah, dsb), tapi yang dikedepankan adalah “substansi-nya”.

#Kebajika yang sesungguhnya adalah “kebajikan” yang dijelaskan dalam al-quran surat Al-Baqarah 2: 177.

#Sampai saat ini luas masjid Nabawi adalah 305.000 m2.

#Peradaban-peradaban dunia yang meninggalkan bangunan yang megah, emas perak, dan unsure keduniaan lainnya, tidaklah relevan dengan sejarah Islam  Unsur “duniawi” adalah unsure yang bukan “substansi”. Unsur duniawi adalah unsure yang bersifat sementara. Hal tersebut dapat kita ketahui dari makna “dunia” itu sendiri. “Dunia”, berasal dari kata “dana” – “yadinu” – “dunia”, yang bermakna “ada unsure kesementaraan”.

#Masjid Nabawi juga difungsikan untuk menyusun strategi perang ketika jaman Nabi SAW.

#Fugsi Masjid Nabawi adalah sbb:

1.fungsi politik: untuk menyusun strategi perang;

2.funsi social: menampung fakir miskin;

3.fungsi kesehatan: tempat untuk mengobati korban perang;

4.fungsi ekonomi: sebagai tempat menghimpun zakat, tempat melatih orang-orang miskin di jaman itu untuk digembleng menjadi entrepreneur;

5.dan funsi-fungsi masjid Nabawi lainnya, yang jelas, Masjid Nabawi merupakan masjid yang diperuntukan sebagai pusat “central” kegiatan dari berbagai denyut kehidupan pada Masa Rasululloh SAW.

#Sebenarnya semua masjid dalam islam itu sama, tidak ada perbedaan. Kita sering melihat di Negara kita, ada pelabelan khusus pada masjid, missal di sana masjid NU, di sana masjid Muhamadiyah, di sana masjid Ahmadiyah, dan pelabelan lainnya yang mengarah pada perpecahan umat. Padahal substansi dari masjid tidaklah demikian.

#Kita juga sekarang melihat, bahwa di Negara kita, kegiatan politik, kegiatan ekonomi, kesehatan, dan kegiatan lainnya, banyak yang sudah dipisahkan secara “lahirian’ kegiatannya dari masjid. Hla demikian tidaklah salah, karena kita tahu, masjid sangatlah terbatas tempatnya, sedanhkan kegiatan-kegiatan politik, social, ekonomi suatu Negara, perlulah tempat yang lebih luas lagi. Tidak lah menjadi maslah aspek-aspek kegiatan kenegaraan tersebut terpisah dari masjid, asalkan orang-orang yang mengisi berbagai aspek yang ada di luar masjid itu adalah “Orang-orang masjid”, adalah orang-orang yang “Mencintai Masjid”. Misal pusat pertahanan Indonesia tidaklah di Masjid Agung yang terletak di dekat Monas, tetapi dipusatkan di Ci Langkap. Hal itu tidak menjadi masalah, asalkan perajurit-perajurit yang ada di Ci Langkap itu adalah perajurit yang “cinta masjid”, adalah “perajurit yang beriman”, sehingga ketika akan perang melawan musuh, tidak ada satupun pleura yang terbuang sia-sia, karena ditembakkan atas dasar iman, ditembakkan karena ingin membela kebenaran yang dituntutkan oleh Alloh SWT.

Waallohu a’alm,

Note: Kajian ini diperoleh dari kajian Three in One, di Masjid Cut Mutia, Gondangdia, Menteng Kecil, Jakarta Pusat, dengan pembicara Ustad Tampanuli – semoga Alloh memberkahi Beliau, asal beliau adalah Flores, domisili Jakarta (maaf gelar narasumber belum bisa dipublikasikan oleh penulis).

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: