ANTARA KNALPOT KENDARAAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN PENGENDARA

Ojeks (motorcycle taxis)

Ojek (Ilustrasi: Wikipedia)

Satu hal yang membuat saya berpikir terlalu jauh, sampai sebagian teman menilai saya sebagai orang berlebihan dalam menilai hal ini, yaitu masalah knalpot kendaraan. Di Kota besar, seperti Jakarta, atau bahkan di kampung yang sangat kecil seperti kampung saya, masih banyak dijumpai knalpot kendaraan yang bersuara keras. Memang, ukuran ‘keras’ tidaknya suara adalah hal yang relative, tapi kita membuat beberapa ukuran, misalnya, dikatakan keras kalau bisa menimbulkan terbangunnya bayi ketika kendaraan itu melewat, dan sebagainya. Saya rasa, knalpot motor itu ‘tak perlu keras-keras’. Buat apa?. Mungkin untuk pamer kepada orang sekitar ketika dia lewa pake kendaraan itu, bahwa dia punya kendaraan sebagus itu. Dipikir jauh, buat apa juga pamer? Bukannya hidup pamer itu capek ya? Tak habis piker memang.

Terus, kalau fenomena knalpot keras ini kita kaitkan dengan kesopanan, maka menjadi timbul sebuah pertanyaan; Sopan nggak sih orang yang memakai knalpot dengan suara keras..?. Kalau jawaban saya: “Tidak sopan”. Kenapa? Karena mengganggu ketenangan orang lain. Khususnya ketenangan “pendengaran”. Kata anak muda, kalau knalpotnya nggak keras, itu nggak stylist, nggak gaul. Nanti dulu. Apakah demi stylist, demi atas nama gaul lantas kita tidak berbuat sopan? Nggak kan?, hehe.. Malah menurutku, orang akan lebih terasa stylistnya, lebih terasa gaulnya. Lebih punya taste, ketika semuanya dipadukan dengan ‘sopan’. Buat apa sih ‘sopan’?. Kita makhluk social, hak kita dibatasi oleh hak orang lain. Terus kalau tetap ngotot sampai timbul pernyataan: “Peduli amat ama orang lain, gua hidup sendiri aja.” Tidak lah bisa hidup sendirian. Kenapa?, karena hidup tiap orang itu butuh orang lain. Kita mau dianggap stylist dan gaul, dan kemauan itu akan terwujud setelah ada ‘orang lain’ yang menilai. Kalau tidak ada orang lain bagaimana? Predikat atau penilaian itu tidak lah kita dapatkan bukan? Hehe. Kita butuh orang lain untuk percontohan dan untuk menentukan tingkat prestasi kita itu sampai di mana. Tidak lah aman dan nyaman dalam hidup kalau tidak ada unsure ‘penilaian’. Maka dari itu, mari berkendara dengan knalpot yang tidak bising, yang tidak memekakkan telinga, karena kita butuh orang lain, karena kita mau stylist, karena kita mau mendapat penilaian positif dan bergengsi dari orang lain..

“Ahhh.., gak setuju dengan knalpot nggak keras, karena pemuda atau orang lain pun keras..!”

Okey, cobalah kita tinjau dari aspek lain. Kita tinjau dari aspek ‘pendidikan pengendara’. Seberapa tinggi tingkat pendidikan si pengendara, akan mempengaruhi pola dia berkendara dan cara dia memperlakukan kendaraannya. Tingkat pendidikan menentukan seberapa respek atau seberapa sadarnya dia terhadap berbagai hal berhubungan dengan satu hal. Seberapa sadar dia dengan berbagai hal berhubungan dengan hal dia berkendara. Semakin tinggi pendidikan si pengendara, maka dia akan berkendara dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Aspek bising pasti akan dia perthitungkan. Maka, dengan berkendara dengan knalpot keras, jangan heran jika sebagian orang menilai Anda sebagai orang yang “kurang pendidikan”.. J

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: