HUTAN DI KAMPUNGKU ANTARA TAHUN 1994 SAMPAI 2000

English: Boiled and opened Arenga pinnata frui...

English: Boiled and opened Arenga pinnata fruit, showing its endosperm. Sirnarasa, Sukabumi, West Java, Indonesia Bahasa Indonesia: Buah dan biji aren (Arenga pinnata) yang telah direbus, untuk dibuat kolang-kaling. Desa Sirnarasa, Kec. Cikakak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

Mau nulis di blog itu, kadang bingung, harus di masukan ke kategori tulisan apa. Tapi tidaklah masalah, yang penting menuangkan ide.

Entah kenapa teringat hutan pada tahun itu? Sehinggaa membawaku untuk membuka leptop, kemudian menarikan jari jemari di atas key board. Hutan di sekitar kampungku pada tahun 1994 sampai tahun 2000, sangatlah masih alami. Kampung yang ku maksud adalah:

Kampung Cijerah, Desa Waluran, Kecamatan Waluran (dulu Desa Sukamukti, Kec.Sukamukti),

Kampung Mataram I, Desa Lengkong, Kec.Lengkong;

Kampung Lembang, Desa Jampangkulon, Kec.Jampangkulon;

Patok Besi, Desa Lengkong, Kec.Lengkong;

Kampung Ci monyet, Desa Lengkong, kec.Lengkong;

Kiara dua, desa Simpenan, Kec.Simpenan,

Hutan Pasir Piring, Desa Waluran, Kec.Waluran.

Itulah sederetan nama lokasi hutan yang ku ingat, dan ku maksud sebagai ‘hutan di kampungku’. Di sebut ‘hutan di kampungku’, karena pada waktu itu, daya jelajahku hanya berputar seluas itu. Semua lokasi hutan yang ku sebutkan adalah di Kabupaten Sukabumi bagian Selatan.

Ketika Sekolah Dasar (SD) dulu, ku berangkat sekolah itu pasti melewati hutan yang ada di antara Kampung Cijerah dengan Kampung Lembang. Hutan itu milik PERHUTANI, katanya. Perhutani yang masuk ke Wilayah Lengkong. Meskipun masuk wilayah hutan Perhutani, tapi keadaan hutan pada waktu itu, 1994–1996, masih sangat alami, sehingga tidak aneh ketika berangkat sekolah dasar, sering menjumpai satwa-satwa, baik di atas kayu hutan, di lantai hutan; baik yang terbang maupun yang merangkak. Selain sering menemui satwa ketika berangkat sekolah, sering juga menemukan beragam buah hutan ketika masa-masa berbuah, seperti tokbray, saninten, tungeureuk, pisang kole, pinding, dan marasi. Kalau musim buah, berangkat sekolah itu pagi-pagi, pasti direncanakan untuk memungut buah tokbray yang jatuh. Kebetulan pohon tokbray itu terletak di pinggir jalan sebelah kirinya. Meski lokasi itu pohon tokbray itu curam, mungkin hampir 45 derajat kecuramannya, tapi tak mengurungkan niat ku dan teman-teman untuk menuruni lereng yang berpohon tokbray itu, demi mendapatkan ,si buah tokbray yang manis nan legit. Kebetulan ku sampai saat ini belum mengetahui nama latin dari pohon tokbray itu. Yang jelas, dan yang ku ingat, buah itu memiliki cangkang yang berbatok, diliputi kulit cangkang yang hijau ketika mentah, dan kuning ketika masak. Satu buah terdiri dari beberapa kamar daging buah, dari dua sampai lima kamar daging buah. Memiliki kamar daging buah seperti buah manggis.

Pernah, suatu pagi, ketika hendak memungut buah tokbray, kami berburu untuk target buah tokbray, siapa cepat–dia dapat, akhirnya ku terjatuh karena jalanan licin. Terjatuh di pagi hari ketika hendak bersekolah. Malu-malu tapi seru.., hehe..🙂 Setelah terjatuh, dengan baju kotor, ku langsung menuju rindangan pohon tokbray itu. Dan entah dapat atau tidak buahnya, yang ku ingat, kalau ritual pemungutan buah itu dilakukan, maka harus bermodalkan pelesetan kaki di kemiringan lahan buah tokbray itu. Selain lahannya miring, di bawah poohon tokbray itu dipenuhi tumbuhan salak hutan, yang berduri di sekeliling pohonnya, sehingga kalau diingat sekarang, sangatlah menarik karena begitu banyak pengorbanan demi mendapatkan buah tokbray itu.

Tidak terasa, sekarang sudah tanggal 17 Juni 2012. Daripada melamun ke sana kemari, lebih baik meneruskan cerita keadaan hutan di kampungku, dulu.

Iya, sekitar aku kelas 4 SD, hutan tempat ku memungut buah tokbray itu, ternyata ditebang habis-habisan. Waktu itu, Perhutani seperti ada program penebangan hutan tahunan. Yang mana penebangan itu bersifat berpindah-pindah. Biasanya, lokasi dan luasan lahan hutan yang akan ditebang itu ditentukan, dan yang paling kaget, hutan Perhutani di seluruh kampungku masa itu, adalah hutan Perhutani yang masih berbentuk ALAMI. ALAMI sekali. Pohon berlumut, diameter pohon sebesar drum, buah-buahan hutan; huni, rukem, buah rotan, pinding, rangasa, umbut pakis, umbut rotan gajah, umbut rotan sega, dan makanan lainnya untuk penduduk sekitar kampung; adalah masih dapat dipasok dari hutan. Tapi.., apalah daya.., sekitar aku kelas 4 SD, atau kelas 3 ya.., penebangan hutan Perhutani yang masih alami itu dilakukan. Deruman mesin gergaji chain saw di sana-sini, mobil-mobil truk 12o PS adalah lalu lalang membawa kayu, baik kayu yang sudah berbentuk balokan, ataupun yang masih dalam bentuk batangan. Hutan di jalanan ke sekolahku, yang tadi begitu rimbun, susah mau  melihat matahari pun, akhirnya menjadi berubah.., berubaaah.., berubah..!, HABIIIIS..!!!

Jalanan yang menghubungkan antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya pun, kiri kanannya mulai bersih, gersang. Kalau musim hujan jalanan itu becek sekali, maklum truk angkutan masuk menuju perkampungan; kalau musim panas tiba, jalanan adalah panas dan berdebu. Ketika masih hutan, kondisi jalan adalah stabil, ketika hujan tidaklah begitu becek, karena jarang mobil masuk kampung kami, maklum kampungku masih begitu pedalaman. Yang sering masuk hanya kendaraan bermotor. Ketika musim panas, masih ketika hutan masih rimbun, jalanan tidaklah panas, adeeeem…, kiri kanan rimbun oleh pohon hutan. Terkadang, kalau berjalan kaki menuju rumah, atau ketika mau menuju ke kota, jelrang, monyet ekor panjang, owa jawa, bajing, tupai, burung sri gunting, adalah menyapaku, baik pagi ataupun di kala siang. Setelah hutan habis.., habislah cerita perjumpaan kami bersama kerindangan pohon yang berlumut, dan cerita perjumpaan kami dengan satwa-satwa itu.

Setelah hutan di kampungku mengalami penebangan, aku pun lulus sekolah SD. Setelah sekolah dasar selesai, entah apa yang mendorong diriku, sehingga sangat ingin untuk melanjutkan sekolah ke SMP (sekolah menengah pertama). Habis itu, ya sudah, ku melanjutkan ke SMP. Sekolah SMP letaknya lebih jauh dari rumahku, hutan yang harus dilalui juga lebih jauh.

 

= = =

(Bersambung)

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

2 Responses to HUTAN DI KAMPUNGKU ANTARA TAHUN 1994 SAMPAI 2000

  1. stephanus Christiono mengatakan:

    Wah… mantep juga… Sesama orang pernah tinggal di Sukabumi harus saling melengkapi… hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: