RELAKAH GENERASI PENERUS DIBEGINIKAN?

Memang, cerita ini, saya alami dan saya saksikan sendiri.., saya juga ikut merasakan keluh kesah dari Pelajar yang kena tipu oleh Kepala Sekolah sendiri..
Saya ingat, nama anak itu di antaranya adalah Cardono, dan teman-temannya yang lain, yang usianya adalah usia pelajar, bukan usia pekerja..

Pada saat itu, Cardono dan dua orang temannya, meminta waktu luang kepada saya, untuk berusaha mencari jalan keluar, atas kejadian yang menimpa dirinya, dan beberapa teman yang lainnya, yang statusnya masih pelajar sebuah SMK di Indramayu..

——————————————————————————————————————–

Kami bekerja 12 jam, sama seperti TKI lainnya dan tidak bisa belajar seperti biasanya karena terlalu capek

Ironis memang…tapi itulah kenyataan yang harus dialami oleh para pelajar sebuah SMK swasta di kota Indramayu yang mana mereka kini telah dipekerjakan atas nama PKL (Praktek Kerja Lapangan) di salah satu pabrik kayu lapis di Sarawak, Malaysia.

PKL yang mereka lakukan tidaklah berbeda dengan pekerjaan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja full time 8 jam dengan 4 jam waktu overtime wajib atau 12 jam bekerja. Mereka juga menerima gaji seperti layaknya pekerja lain dan juga diduga kuat gaji mereka mendapat potongan dari pihak (oknum) sekolah.

Menurut beberapa sumber yang kami terima dari para siswa tersebut, pekerjaan yang mereka lakukan sangat jauh dari konsep PKL yg mana PKL bertujuan menerapkan disiplin ilmu yang mereka miliki di sekolah untuk dipraktekan di lapangan pekerjaan, tapi kenyataannya adalah mereka bekerja sangat jauh dari bidang ilmu yang mereka pelajari, seperti contohnya yang jurusan otomotif mereka bekerja dibagian pengeringan kayu lapis dan lainnya.

Rentang waktu PKLpun adalah tidak wajar dengan waktu PKL yang normal yaitu 3 bulan telah berganti menjadi 1 tahun, seperti yang terjadi disalahsatu pabrik di sini PKL bermula dari september 2011 dan akan berakhir september 2012 yang akan datang, bahkan para pelajar tidak tahu kapan mereka harus ujian kenaikan kelas ke kelas 3 SMK karena mereka masih terikat kontrak kerja selama 1 tahun.

“Kami datang kemari kelas 2 SMK dan gak tahu bagaimana nanti naik kelasnya,” kata salah satu pelajar.

Dan ketika ditanya tentang pelajaran mereka, mereka berkata sudah tidak tahu menau dengan pelajaran disekolah, yang mereka lakukan sekarang adalah bekerja dan bekerja.

Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah sudah sedemikian parahkan proses pendidikan kita di Indonesia sehingga menjadikan anak didiknya seperti sapi perahan untuk dijadikan komoditi/kepentingan oknum tertentu untuk mendapatkan uang. Dan apakah pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap pendidikan tersebut tidak memahami fenomena ini atau mereka sekadar tutup mata dan telinga melihat hal ini???

Menurut sebuah sumber di pabrik tersebut ada beberapa kejanggalan yang ada dalam proses pengiriman siswa PKL ke Pabrik ini:

1. Datang bersama kepala sekolah bersama-sama dengan TKI Umum

2. PKL dilaksanakan bukan pada bidang pelajarannya.

3. Dipekerjakan sama dengan TKI umum 12 jam dan tempat tinggal dicampur dengan TKI Umum

4. Ada indikasi kuat Gaji dipotong oleh oknum sekolah sebesar RM400 perorang perbulan

5. Sekolah tersebut hanya bekerjasama dengan satu pabrik saja.

6. Mendatangkan 1 orang tenaga kerja (TKI) dipabrik tersebut akan mendapatkan RM400-RM700

tim jurnalis FORKOMMI Bintulu

(Forum Komunikasi Masyarakat Muslim – Bintulu Malaysia)

 

——————————————————————————————–

Itulah hasil uraian dari Tim FORKOMI, kebetulan saya juga pernah ikut kegiatan-kegiatan FORKOMI ketika saya masih kerja di Bintulu, Sarawak, Malaysia.

Saya harap, dengan adanya tulisan ini, orang-orang mulai peduli dengan keadaan yang bisa saja terjadi, meski hal-hal itu tampak mustahil. Lebih khusus lagi, saya berdo’a semoga masalah ini ada penuntasan yang penuh dengan nilai-nilai keadilan.

 

semoga bermanfaat.

 

 

 

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: