SARAWAK, SEE YOU NEXT TIME.. :)

English: The side view of the new Sarawak stat...

English: Photo in Kuching city, The side view of the new Sarawak state assembly building in the evening (Photo: Wikipedia)

Tak ku duga, dua kakiku bisa menginjak di Bumi Sarawak; tak ku duga, dua mataku bisa menari-nari di antara indahnya Sarawak; tak ku duga, keringatku pernah jatuh di Bumi Sarawak. Tapi, sekarang itu semua adalah tinggal kenangan. Bagai pepatah Sunda, “aya mangsana mulang, aya mangsana datang; mulang jeung datang, bakal kasorang” (ada waktunya pulang, ada waktunya pergi; pulang dan pergi akan teralami), begitulan kisah antara hidupku dengan Sarawak, Malaysia.

Mungkin cerita manis dan pahit selama perjalanan Jakarta Pontianak, Pontianak-Kuching, atau Jakarta-Kuala Lumpur, Kuala Lumpur-Sibu (Sarawak). Semua menyimpan kisah. Di sini, ku tuliskan hanya benang-benang merah yang masih terasa melintas lintang di dalam benakku, benang-benang merah yang masih sebagian tersusun kusut dalam kepalaku, tapi benang-benang merah antara kisah hidupku dengan Sarawak mungkin tak bisa diceritakan secara detail, secara terperinci, karena begitu banyak ceritanya. Apalagi ada pepatah melayu mengatakan, “foto lebih banyak bicara daripada kata-kata”, jadi begitu terbatas kata-kata di sini yang bisa menguraikan kisahku dengan Sarawak.

Itulah sejumput teori pembuka asa, sebelum bercerita jauh dan apa adanya.

Sarawak, I love You..

Sarawak, I am jealous with You..

Sarawak, some time I hate You..

But, all of it, now just beautyfull memorial..

Sarawak.., maafkan aku.. Selama menyusuri jalanan memakai armada taksi antara Kuching airport sampai terminal bis Kuching (sekarang: Kuching Central), aku tak jarang menyumpah-nyerapahi kamu karena aku kecapean; tak jarang aku membandingkanmu dengan tempat-tempat surgawi di Indonesia. Maafkan aku..

Sarawak, masih ku ingat ketika itu, betapa banyak dalam bis antara Kuching bus terminal sampai Bintulu Bus terminal, TKI yang menumpang di bis. Mereka membawa buku kecil bersampul hijau, dan bergambar burung garuda, “passport Indonesia’. Ketika itu, hatiku teriris dengan melihat kondisi itu. “Demi isi perut, orang rela melintas batas Negara; demi isi perut, orang rela mengorbankan nyawa sekalipun; demi isi perut dan keluarga, orang rela dihina di negeri orang; demi isi perut dan keluarga, orang rela ditipu; demi asa dan cita, orang rela kerja di luar negeri selama dua tahun dengan tekanan bak seorang napi ditempatkan di sebuah penjara”.

Sarawak, di sana terhimpun banyak orang Indonesia. Orang Indonesia yang menjadi TKI, baik dari Lampung (Sumatera), dari SUkabumi, dari Cianjur, dari Garut, dari Bandung, dari Purwakarta, dari Indramayu, dari Cirebon, dari Trenggalek, dari Semarang, dari Jawa Timur, dari Madura, dan tak kalah banyaknya yaitu dari Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sambas dan Pontianak. Itu asal para TKI yang tak segan meneteskan keringatnya di negeri luar demi cita-cita pribadi dan keluarganya.

……

Entah.., cerita langsung terpotong ketika mendengar ada obrolan orang lain via telpon kantor.

Sarawak, see You, may be I will come back again for You, may be I can not come back again, I do not know.

Sarawak, ku masih teringat, kalau jalan-jalan di Sarawak itu betapa sulitnya mencari makanan halal. Ujung-ujungnya ku minta maaf lagi ya Sarawak, karena aku tak jarang menyumpah-nyerapahimu: “huuh.., katanya Negara dengan agama islam sebagai agama wajib, tapi mencari makanan halal, mencari masjid, adalah dua hal yang sangat sulit”. Maafkan aku.

Sarawak, kadang aku geleng-geleng kepala, ketika ku ke Bintulu dengan Park City-nya, ke Sibu dengan Sanyan-nya, ke Miri dengan E-Mart-nya, Kuching dengan Taman Sungai dan patung kucing-nya, begitu banyak dijajakan daging babi, dengan digantung setelah dikuliti, dirajang. Begitu tidak aneh congor babi menumpuk di sana-sini, menumpuk di setiap warung penjaja babi. Tapi, ku tetap menghargaimu, itulah kamu Sarawak. Ku menghargaimu, karena ku teringat sebuah jurus yang harus dibawa dan dipakai oleh seorang pengembara: “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Begitulah kira-kira sehingga ku menghargai, ku tak berani mengganggumu.

Sarawak, adalah sebuah lokasi, di mana aku pertama kali bisa merasakan sakit dan pedihnya menjadi orang yang dimasukkan ke dalam mobil polisi khusus untuk meringkus penjahat kota. Ku teringat, dan mungkin tak kan lupa, ku pernah diringkus di Kota Kuching oleh polisi Malaysia. Hal ku tertangkap polisi, ku tak tahu pasti. Yang jelas, ketika aku sedang menikmati indahnya taman sungai Kuching, tahu-tahu ku digiring oleh polisi berseragam dan berlaku seperti garong; seperti freeman. Sehingga, alih-alih, ku minta maaf lagi, sejak dari kejadian itu, ku kembali menyumpah-nyerapahimu, “dasar negeri antah berantah, tak tahu kesopanan, tak tahu pendidikan”. Maafkan aku Sarawak. Tapi meski ku diringkus dan diangkut dalam mobil polisi berjeruji itu, ku masih bisa kembali ke hotel sederhana ku, setelah aku minta tolong untuk dijemputkan oleh seorang China teman kerja; seorang China yang kadang jadi musuh kerjaku; teman China yang kadang berhati malaikat, kadang berhati setan; seorang teman China tua, tapi pandai bercerita; seorang China yang pernah ku rasakan perhatiannya; seorang China yang terkadang tak punya pendirian; seorang China yang terkadang seperti manusia tak bertuhan; seorang China yang terkadang seperti biksu; seorang China yang mungkin ku tak kan bertemu lagi dengannya setelah dia mengajakku makan-makan di Sibu pada 20 Juni 2012 sebelum ku pulang ke Indonesia.

Jadi teringat teman-teman kerja, Mas Asrori, Kang Ajid, Mas Heru, Kang Helmi, Yunus, Bambang, Andre (Noviandri), Anne, Mas Budi UGM, Si Iwan, si Ari, si Rahman, Kang Ading. Ku teringat orang-orang itu, yang sama denganku, yang pernah meneteskan keringat di atas lembaran-lebaran kayu lapis buatan para TKI. Entah masa depan teman-teman kerjaku seperti apa. Yang jelas pepatah menyatakan, “dalamnya laut bisa diukur, nasib orang tiada yang tahu”. Sehingga bertolak dari peribahasa itu, ku tak tahu masa depan teman-temanku itu, masa depan teman-temanku yang kerjanya rajin-rajin, yang kerjanya begitu khsusu, yang kerjanya begitu ikhlas, yang kerjanya tanpa pamrih demi sebuah cita-cita diri dan keluarganya, yang bekerja demi masa depan diri dan bangsa. Sukses ya kawan-kawanku.

Iya, ku banyak terima kasih pada Mas Febi, KSH IPB 41, dengan jasanya ku bisa menginjakkan kaki di Sarawak; terima kasih juga buat Bu Yulia Berlian yang dengan telaten menerimaku berdedikasi di perusahaan Jepang itu. Terima kasih, hatur nuhun, semoga jasa-jasa mereka dibalas dengan lebih baik oleh-Nya. Aamiin.

Sudahlah, see You Jakarta, n Bogor I will come back again for You.., hehe.🙂

[Rudi, Gedung Dana Graha, Gondangdia kecil, Menteng, Jakpus; 26 Juni 2012.]

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: