MENJADIKAN PUASA SEBAGAI JALAN UNTUK MENUJU KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH

Tidak terasa, hari ini, sudah menginjak hari ke 4 bulan puasa di tahun 1433 H (25 Juli 2012). Puasa adalah salah satunya sebagai jalan untuk mer-refresh ketaatan tiap Muslim pada Sang Khaliq, Allah SWT. Salah satu momentum yang baik untuk me-refresh kesadaran-kesadaran Muslim, untuk kembali menata keluarganya masing-masing, menuju keluarga yang SAKINAH, MAWADDAH, WARAHMAH. Atau kalau menurut trend masa kini, sering disingkat dengan “keluarga SAMARA”.

 

Sebenarnya terdapat beberapa hal yang perludiingat kembali, sebagai upaya untuk menuju keluarga SAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH, yaitu terletak pada:

“Si suami haru mampu menunaikan hak-hak dan kewajibannya kepada Istri; dan istri harus mampu juga menunaikan hak-hak dan kewajibannya pada suami”.

 

Bagian Pertama: Sebagai Suami.

  1. Memberi nafkah kepada Istri harus “sesuai” kemampuan, tidak boleh dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan,
  2. Suami menerima apa adanya dari Istri yang dimilikinya,
  3. Suami selalu lemah lembut terhadap Istri, sekalipun Istrinya dalam keadaan lalai,
  4. Suami selalu menunjukan jalan-jalan yang lurus, jalan-jalan menuju kebaikan, jalan-jalan menuju akhirat yang baik, kepada Istrinya,
  5. Suami senantiasa mengajari Istrinya tentang pengetahuan beribadah; pengetahuan dari cara bersuci sampai tatacara berhaji, dan pengetahuan-pengetahuan lain yang bisa mendekatkan diri si Istri pada Alloh SWT.

 

Bagian Kedua: Sebagai Istri.

  1. Istri selalu berusaha memperlihakan kecantikannya pada Suami. Bukan memperlihatkan kecantikan pada laki-laki lain yang bukan mahramnya.
  2. Tidak boleh Istri menolak ketika diajak “tidur” oleh Suaminya,
  3. Tidak boleh keluar rumah, tanpa ijin Suaminya,
  4. Istri senantiasa berhati-hati agar tidak samapai mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat menyakiti Suaminya,
  5. Istri tidak boleh membuka wajah kepada selain Mahramnya (Mahram: anak-anaknya, Ibu-Bapaknya, Kakek-Neneknya, Suaminya, orang-orang yang tidak boleh dinikahi). Hal ini yang dianggap aneh saat ini. Aneh melihat wanita bercadar, padahal itu adalahsalah satu wasillah untuk menjauhkan diri dari keharaman. Sungguh, berbahagialah bagi orang terasing karena agama (asing=aneh).
  6. Sebagai Istri, tidak boleh memukul anaknya yang belum baligh. Hanya Istri yang dilarang, karena hanya Istri yang selalu ada di rumah, sedangkan Suami kebanyakannya di luar rumah, mencari nafkah, dan
  7. Seorang Istri tidak boleh memberikan sesuatu apapun kepada orang lain tanpa seijin Suami, meski yang diberikan itu adalah harta/sesuatu hasil Istri itu sendiri.

 

Apabila salah satu dari point-point di atas tidak bisa dilakukan, maka cita-cita mulia, yaitu membangun keluarga SAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH; akan sulit terwujud.

 

Waallohu a’lam.

 

Taman Pagelaran, Ciomas, Bogor.

25 Juli 2012,

Rudi Hermawan.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: