SEMAKIN MENJAMURNYA MALL KE DESA-DESA

Mungkin, saat ini, tidak lah aneh lagi kalau kita mau melihat mall. Baik ukuran besar maupun kecil. Mall ada di mana-mana. Tapi, apakah dengan adanya mall itu masyarakat akan lebih sejahtera? Atau sebaliknya, akan lebih TIDAK sejahtera..?

Sebenarnya, pembuatan mall yang besar sudah ada peraturannya dari pemerintah. Baik lokasi berdirinya, maupun jarak antara satu mall dengan lainnya.

Untuk mall kecil, seperti INDOMARET, ALFAMARET, BIGMARET, GIANT, dan lainnya, saat ini sudah menjalar ke peloksok daerah. Mall-mall ini sampai masuk ke desa-desa. Banyak diuntungkan atau banyak dirugikan dengan adanya mall-mall masuk ke desa-desa ini?

Prof. Amzu, Guru Besar IPB di bidang Konservasi Kehutanan mengatakan, “masuknya mall ke desa-desa adalah salah satu upami mempertinggi tempat jatuh; adalah upaya memeras uang rakyat miskin”. Beliau berkata demikian bukan tanpa alasan. Kalau dicermati memanglah demikian adanya. Dengan adanya mall masuk desa, maka uang penduduk miskin itu akan terkuras atau tertuju ke mall, untuk belanja pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan, pedagang klontong Mak Icih, pedagang kelontong Bi Ijoh, atau kelontongnya Pak Haji, misalnya, semuanya gulung tikar, karena semua kebutuhan masyarakat sudah tersedia di mall/toko swalayan itu. Ini mungkin salah satu gambaran ekonomi kapitalis, yaitu ekonomi akan berpihak hanya pada orang yang bermodal. Warung klontong akan tutup, carut-marut, karena modalnya tidak berdaya untuk menyaingi mall-mall itu. Maka tidak lah aneh, jurang si miskin dengan si kaya semakin menganga besar.

Seharusnya, kue ekonomi itu merata untuk setiap penduduk. Setiap penduduk memiliki kesempatan untuk hidup sejahtera. Tapi, dengan terpusatnya ekonomi hanya pada orang yang bermodal, maka kue ekonomi itu hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Dan yang paling mencengangkan, pembangunan mall itu mendapat ijin dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah dengan mudahnya mengeluarkan ijin pembangunan untuk pasar swalayan/mall. Padahal, kalau pasar swalayan telah berdiri, semua orang yang belanja tidak akan ke mana lagi, tidak akan mau masuk pasar tradisional yang becek, tidak mau masuk toko klontong Mak Sarinem, Mak Icih, dll. Semua memilih ke mall.

Kalau pemerintah daerah itu mengetahui lebih jauh, maka mereka akan berpikir dua kali untuk mendirikan mall kalau ternyata masyarakat yang ada di daerah itu masih didominasi oleh penduduk miskin. Bahkan, dalam salah satu ajaran agama, ada konsep berjualan yang mencerminkan keadilan.

Contoh praktis: terdapat toko A dan toko B.  Jika toko A laku keras dalah hari itu, dan toko B belum laku-laku, maka pada jam tertentu toko A menutup warungnya agar pembeli beralih dulu ke toko B.

Dari contoh kasus di atas, seandainya toko A adalah mall yang sering kita lihat di desa-desa, maka mana mungkin mereka member kesempatan pada toko B. missal toko B adalah warung klontongan. Malahan, lebih parah lagi, mall itu sekarang memberlakukan buka toko selama 24 jam. Mana kesempatan untuk pedagang kecil untuk menghirup napas..? TIDAK ADA.

Tapi, mungkin keadaan mall masuk desa ini, ditanggapi positif oleh sebagian orang. Bahkan mungkin sebagian besar orang Indonesia. Mereka berdalih, demi gengsi untuk masuk pasar yang becek, demi gengsi bisa belanja di tempat ber-AC, demi gengsi tak mau bersosialisasi atau berbagi rejeki dengan pedagang klontong. Apakah semua demi gengsi..? SEDIH. Tidakkah kita berpikir demi prestasi..? prestasi bersama tentunya. Prestasi bersama masyarakat, prestasi bersama tetangga. Kenapa prestasi itu harus bersama orang lain? Karena hidup kita tidak sendiri, dan tak bisa hidup sendiri. Nabi Adampun meminta pada Yang Maha Kuasa untuk diberikan teman hidup, gara-gara tidak kuat hidup sendiri, meski hidup berkecukupan.

Kembali lagi ke masalah mall.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa pemerintah daerah itu mengijinkan mall-mall itu masuk desa..?

Terdapat tiga macam nilai keseimbangan untuk menjawab hal ini:

Gambar tiga dimensi

3 keseimbangan

untuk ilustrasi keseibangan.

Kalau kita coba membayangkan bangun di atas untuk konsep mall masuk desa, maka mungkin bisa dimasukan nilai untuk mall itu adalah: BAIK, PENTING, SALAH, dengan uraian sebagai berikut:

  1. Dikatakan BAIK, karena bisa memperlancar orang untuk belanja.
  2. Dikatakan PENTING, karena dibutuhkan masyarakat.
  3. Dikatakan SALAH, karena terdapat mata pencaharian lain dan bersifat public/umum, yang tertutup gara-gara mall itu buka.

Selama suatu kegiatan itu masih berkutat atau masih menyertakan nilai negative (SALAH, BURUK, TIDAK PENTING), maka keberadaannya akan merugikan kepentingan umum, akan merugikan lapisan-lapisan tertentu. Sedangkan kalau melihat konsep keseimbangan, semua pihak seharunya tidak ada yang dirugikan.  Keadaan ini akan berbeda jauh dengan toko kelontong yang ada di desa. Toko kelontong ini bisa berada di ruang yang ideal: BENAR, BAIK, dan PENTING. Kalau konsep ruang positif ini telah tercapai, maka itu adalah kosep yang pro terhadap keseibangan.

Terus pertanyaannya, apa sih hubungannya keseibangan dengan mall? Apa gunanya keseibangan dengan pola belanja masyarakat? Kita ketahui bahwa alam berjalan dengan seimbang. Kalau ada sesuatu yang melenceng pada garisnya/tidak seimbang, maka tinggal menunggu kehancuran. Realitasnya, masyarakat desa sudah jelas miskin, ditambah lagi hadirnya konsep yang membuat timpang/tidak seibang, maka hal inilah yang dikatakan Profesor Amzu sebagai perbuatan yang cenderung “mempertinggi tempat jatuh”.

Semoga, para pemegang kebijakan sadar, untuk tidak memberikan ijin begitu saja atas permintaan pengusaha bermodal besar, untuk membangun mall di desa.

Lestari alamku, lestari desaku.

Semoga bermanfaat.

Bogor, 4 Oktober 2012.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: