MENGHANGATNYA ISU GAMBUT DI DUNIA

Oleh: Rudi Hermawan E451120061

Isu pemanasan global begitu menarik untuk dicermati. Menurut Indriastuti (tanpa tahun) Sejak 1850 gletser Alpine telah kehilangan lebih dari 2/3 dari volume aslinya. Pada tahun 2100, diperkirakan hanya 5% gletser yang akan bertahan. Suhu tinggi juga memiliki pengaruh besar terhadap produksi hasil panen. Suhu hangat akan menyebabkan badai, tsunami dan badai petir yang akan mempengaruhi hasil panen pertanian. Sementara itu meningkatnya permukaan air laut diperkirakan akan mengakibatkan bencana yang cukup dahsyat. Ribuan pulau akan hilang. Di kota Jakarta serta pantai Utara Jawa, peningkatan permukaan air laut dapat berakibat berkurangnya wilayah daratan yang cukup signifikan. Banyak ahli yang mengatakan bahwa pada tahun 2025 pantai Ancol akan bergeser hingga mendekati Istana Negara.

Karena sedang ada kecendrungan menaik tentang isu pemanasan global, maka segala sesuatu yang memicu penambahan pemanasan global tersebut juga terangkat. Salah satu pemicu terkait meningkatnya suhu global yaitu gambut.

What's at Stake in Borneo

Gambut

Isu terkait gambut semakin menarik terkait pemnasan global karena gambut memiliki karakteristik fisik dan kimia yang khas. Karakteristik tersebut berhubungan dengan kontribusi gambut dalam menjaga kestabilan lingkungan (**). Beberapa aspek lingkungan yang menjadikan gambut sebagai topik hangat saat ini yaitu:

1.Lahan gambut sebagai penambat dan penyimpan karbon,

2.Lahan gambut sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK),

3.Kebakaran lahan gambut, dan

4.Aspek hidrologi dan subsiden.

Konversi hutan dan pengelolaan lahan gambut, terutama yang berhubungan dengan drainase dan pembakaran, merubah fungsi lahan gambut dari penambat karbon menjadi sumber emisi GRK. Lahan hutan yang terganggu (yang kayunya baru ditebang secara selektif) dan terpengaruh drainase, emisinya meningkat tajam, bahkan bisa lebih tinggi dibandingkan emisi dari lahan pertanian yang juga didrainase (Tabel 1). Hal ini disebabkan oleh banyaknya bahan organik segar yang mudah terdekomposisi pada hutan terganggu.

Emisi CH4 cukup signifikan pada lahan hutan gambut yang tergenang atau yang muka air tanahnya dangkal (<40 cm). Dengan bertambahnya kedalaman muka air tanah, emisi CH4 menjadi tidak nyata. Emisi CH4 pada lahan pertanian relatif kecil karena rendahnya pasokan bahan organik segar yang siap terdekomposisi secara anaerob (Jauhiainen et al., 2004). Bentuk intervensi manusia yang sangat mempengaruhi fungsi lingkungan lahan gambut adalah penebangan hutan gambut, pembakaran hutan gambut dan drainase (Gambar 8) untuk berbagai tujuan; baik untuk pertanian, kehutanan (hutan tanaman industri), maupun untuk pemukiman.

Tabel 1. Emisi karbon dari permukaan hutan gambut terdegradasi dan dari lahan pertanian gambut terlantar di Kalimantan Tengah (Jauhiainen et al., 2004 dalam Rieley et al., 2008).

Penggunaan Lahan

Emisi CO2

Emisi CH4

t ha-1 tahun-1

Hutan gambut tidak didrainase

38,9

0,014

Hutan gambut yang terpengaruh drainase

   40,0

0,013

Hutan gambut sekunder, bekas tebang bersih

34,0

0,001

Lahan pertanian berdrainase, dalam keadaantidak dikelola

19,28

0,001

Pustaka

  1.  OPTIMALISASI PENGELOLAAN LAHAN DALAM UPAYA MENEKAN PEMANASAN GLOBAL MENDUKUNG PENDIDIKAN BERBASIS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT). Indriastuti . Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Kementerian Kehutanan . Prosiding Semiloka Nasional: “Optimalisasi Pengelolaan Lahan dalam Upaya Menekan Pemanasan Global Mendukung Pendidikan Berbasis Pembangunan Berkelanjutan”.
  1. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Fahmuddin Agus dan I.G. Made Subiksa. Bogor 2008. Balai Penelitian Tanah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
  1. Jauhiainen, J., Vasander, H., Jaya, A., Takashi, I., Heikkinen, J., Martikinen, P. 2004. Carbon balance in managed tropical peat in Central Kalimantan, Indonesia. In Wise Use of Peatlands – Proceedings of the 12th International Peat Congress, 06.-11.06.2004, Tampere, volume 1, Päivänen, J. (ed.), International Peat Society, Jyväskylä, pp. 653-659. Dalam Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Fahmuddin Agus dan I.G. Made Subiksa. Bogor 2008. Balai Penelitian Tanah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: