POLITIK INDONESIA

Pernahkan kita memperhatikan ulah para politikus di Indonesia?

Ambil contoh, dalam hal sosialisasi calon kepala daerah, misal Bupati. Mereka memasang baner, baliho, atau media social lainnya di pohon dengan cara melukai pohon-pohon itu. Contoh kasus melukai pohon adalah mengikat pohon dengan kawat, dengan plastic, dan sejenisnya dengan tanpa melepas kembali ikatan itu. Atau, beberapa kasus memaku pohon dengan paku besi. Pasti pohon terluka. Pohon yang terluka, tidak hanya menyiksa tubuh pohon itu sendiri, terkadang menuai petaka bagi manusia yang lagi melewati pohon tersebut. Petaka apa yang terjadi atau menimpa? Yaitu “pohon roboh”. Kenapa pohon roboh? Karena pohon itu mengalami pembusukan akibat dipaku, akibat dilukai, dan lain sebagainya. Jadi dari sudut kepedulian akan lingkungan, derak politik di Indonesia belum memperlihatkan kepedulian yang menyeluruh (holistic) terhadap berbagai aspek.

Padahal, dari hal kecil, kita bisa menilai. Seberapa jauh kepedulian atau kepekaan calon pemimpin itu terhadap hal-hal kecil, termasuk melukai pohon atau tidak ketika memasang media sosialisasi pada saat kampanye.

Selain masalah pohon, estetika atau keindahan kota juga kerap menjadi tumbal akibat ulah para manusia yang berebut “tahta”. Mereka memenuhi sudut-sudut kota dengan tempelan. Tempelan yang mereka pasang sungguh beragam. Ada tempelena dari plastic, dari kain, dari stereoform, dan dari bahan lainnya. Semua atribut kampanye itu dipasang memenuhi dan mengalahkan keindahan dan keasrian kota.

Saya pernah berteman di media social, facebook, dengan sebuah grup FB partai. Mereka (grup FB partai itu) mengkrtisi masalah baner yang dicopot duluan oleh Panitia pengawas pemilu terkait baner dari tokoh yang mereka angkat. Mereka mengatakan “Kok baner partai kami buru-buru dicopot?”. Terus saya komentari status media social itu, “Alhamdulillah ya kalo baner dicabut, kota lebih bersih”. Mereka, grup FB parpol itu langsung balas komen, “baner salah satu media sosialisasi”.

Saya berkerut dahi, tidak adakah media atau perantara sosialisasi yang lebih elegan?, yang tidak mencemari atau menodai keindahan kota? Saya pun tak mau membalas komentar itu. Sia-sia.

Ditulis di Gedung Rektorat Institut Pertanian Bogor, 23 Januari 2013, Bogor.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: