MASA DEPAN TENAGA KERJA INDONESIA

Apakah Depnaker (Departemen Tenaga Kerja) memberikan pelatihan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terkait kehidupan masa depan TKI tersebut? Inilah diskusi yang mengalir begitu saja bersama teman kontrakan yang sedang menempuh S-3 di salah satu perguruan tinggi ternama di Negeri ini. Menurut teman kontrakan itu, kalau diperhatikan, Depnaker mungkin memiliki banyak agenda atau kemasan acara yang isinya berisi ‘pelatiahan’ untuk tenaga kerja, termasuk untuk tenaga kerja lintas batas Negara, TKI. Tapi, apakah dari Depnaker sendiri pernah membahas tentang masa depan TKI jika TKI tersebut telah kembali Indonesia? Jawabannya: “sepertinya tidak ada”. Atas dasar itulah, saya mencoba menuliskan hasil diskusi itu, semoga bisa menjadi salah satu jalan cerah bagi para TKI setelah kembali ke Indonesia.

Tidak dipungkiri, banyak yang menjadi TKI itu adalah lulusan SMA atau sederajat. Mereka masih potensial untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tapi, banyak TKI yang merupakan lulusan SMA itu tidak sadar akan potensi yang dimiliki. Tak sedikit dari TKI tersebut hanya memenuhi benaknya hanya dengan satu kata, ‘uang’. Setelah pulang dari negeri orang, dengan membawa uang tidak sedikit, beberapa TKI lulusan SMA itu asyik menghabiskan uang yang dibawanya dari luar negeri, padahal uang pasti bukanlah diperoleh dengan ongkang-ongkang kaki. Penah ada satu cerita dari teman kuliah saya, bahwa dia punya teman SMA di kampungnya, sebut saja Joko. Setelah lulus SMA, Joko langsung mengambil kursus bahasa Korea. Mahir berbahas Korea, dia jadi TKI Korea, dan berhasil dari segi uang. Keberhasilannya itu dibuktikan dengan membangun rumah, membeli kendaraan, dan sebagainya. Setelah lima tahun, Joko habis kontrak. Dia pulang ke Indonesia dengan gaya begitu keren, baju bermerk, tampilan kelas atas. Setelah ada di kampung halaman dia tinggal di kampung halaman, menikmati uang hasil jerih payahnya, termasuk rumah baru yang berhasil dia bangun bermodalkan keringatnya sendiri. Beberapa tahun kemudian, label baru disandang olehnya, yaitu lbel ‘pengangguran’. Dengan label pengangguran yang dia sandang, uang hasil dari Negeri ginseng Korea pun telah habis. Akhirnya, ya tetap pengangguran, paling-paling bantu orang tua ke ladang, kalaupun tidak mungkin serabutan ini itu.

Kalau dicermati, Joko dalam cerita di atas, memiliki potensi untuk memperbaiki diri melalui jalur pendidikan. Memperbaiki diri melalui jalur penddikan, yaitu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bermodalkan ijazah SMA dan uang hasil kerjanya jadi TKI. Tapi kenapa Joko kok tidak mau melanjutkan sekolah? Apa yang salah? Lagi-lagi, teman kontrakan saya yang sebentar lagi lulus S-3  itu bercerita, “mungkin aja Mas, TKI itu menjalani kisah seperti itu karena tidak ada yang mengarahkan, terutama untuk masa depannya. Karena bisa kita maklumi, lulusan SMA yang masih labil, jika kurang bimbingan maka tidak menutup kemungkinan mengambil jalan hidup yang kurang tepat”.

Saya bertanya: “kurang tepat gimana Pak maksudnya?”

Teman kontrakan menjawab: ‘ya.., kurang tepat dalam hal manajemen keuangan, manajemen masa depan, manajemen pola piker, dan lain sebagainya”.

Saya hanya manggut-manggut. Dan teman kontrakan menambahkan lagi pembicaraan,

“Kalau TKI itu memiliki manajerial yang bagus akan keuangannya, dan dia adalah lulusan SMA, maka dipastikan dia akan lebih memilih melanjutkan mencari ilmu sepulang kerja di luar negeri tersebut”. Karena menurut teman saya itu, ilmu atau pendidikan adalah salah satu investasi yang tak pernah rugi.

TKI lulusan SMA itu banyak juga dikirim ke Malaysia. Itu yang saya tahu langsung dari lapangan. Mereka dikirim oleh Kepala sekolahnya yang bekerja sama dengan agen PJTKI (Penyalur Jasa TKI). Anak SMA itu tidaklah dibekali strategi ke depannya setelah selesai jadi TKI. Yang ada, siswa-siswi yang dikirim itu hanya dibekali dengan alasan ‘langitan’, yaitu ‘praktek kerja lapang’ (PKL) supaya menjadi tenaga kerja yang handal. Nyatanya? PKL yang dijanjikan tersebut hanya isapan jempol belaka. Yang jelas, telah terjadi ‘pemaksaan’, atau eksploitasi anak oleh PJTKI bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengirimkan anak sekolahan untuk menjadi TKI. Yang diuntungkan hanya pihak sekolah dan PJTKI itu. Untung yang mereka peroleh berupa komisi selama minimal satu (1) tahun dari kerja banting tulang yang dilakukan siswa-siswi yang dikirim tersebut ke negeri antah-berantah.

Malam ini, saya menulis semaunya saja, tidak melihat isi tulisan ke mana arahnya, tidak memperdulikan urutan kata dan kalimat. Yang ada di kepala, langsung aja. Yang jelas, untuk menyikapi lulusan SMA yang jadi TKI, diharapkan sepulang ke Indonesia itu, dia melanjutkan kuliah. Karena kalau tidak, paling-paling uang yang didapat itu dibuatkan rumah. Kalau udah jadi rumah, apakah cukup masa depan dengan sebuah rumah tanpa persiapan lain? Kalau uang itu dipakai untuk melanjutkan pendidikan, maka dengan pendidikan (ilmu) yang dimiliki, masa depan anak tersebut akan terjamin. Paling tidak dia akan lebih tahu mengenai masa depan yang bisa diraihnya dengan sukses.

Jangan baru jadi TKI, terus uang dihamburkan untuk beli ini itu, dan yang dibeli bukanlah merupakan kebutuhan pokok (primer), tapi cenderung kebutuhan sekunder atau tersier. Mungkin para TKI lulusan SMA itu ada juga yang berpendapat seperti berikut. Yaitu beranggapan bahwa, percuma melanjutkan pendidikan juga, karena tak sedikit sarjana atau diploma yang nganggur. Memang pendapat itu benar kalau dilakukan standarisasi penilaian akan hakikat sukses itu hanya dengan uang. Sedangkan sukses itu bukanlah uang yang menjadi standar penilaiannya. Sukses kalau dalam kitab suci Al-Quran yaitu berhasilnya seseorang menjalani proses –apapun itu– dengan baik dan benar’. Dimana standar “baik dan benar” yang dimaksud adalah “baik dan benar” yang sesuai dituntunkan oleh syariat. Ketika sesorang telah melakukan atau menjalani proses dengan baik dan benar, tapi ternyata di akhir tidak bisa memetika ‘buahnya’, maka itu tidakah orang itu merugi, karena Allah akan membalas amal ibadah hambaNya dengan balasan setimpal. Atau dengan kata lain, urusan hasil akhir hanya Allah SWT yang menentukan. Dan hasil akhir bukanlah satu-satunya standar yang bisa dijadikan sukses atau gagalnya seseorang. Sukses lebih dinilai dari proses, bukan hasil akhir.  Maka dari itu, tidaklah benar pendapat bahwa meski sudah melanjutkan sekolah, masih banyak sarjana yang nganggur.

Dan satu lagi, mungkin ini pola piker dari beberapa orang tua yang kurang tepat. Tidak jarang kita mendengar, orang tua berpesan:

“Nak.., sekolah yang tinggi ya.., supaya kamu nanti dapat pekerjaan yang bagus, dapat uang yang banyak..”. sekilas, pesan itu seperti benar. Padahal salah. Kenapa salah? Karena hakikat sekolah itu mencari ilmu. Bukan mencari jabatan atau kedudukan, atau mencari pekerjaan. Jabatan, kedudukan, perkejaan, itulah hanya ‘hasil ikutan’ atau ‘embel-embel’ dari ilmu yang bisa diterapkan oleh si anak setelah lulus mengenyam pendidikan di sekolah. Jadi, perlu diluruskan pandangan yang kurang tepat dari beberapa orang tua tersebut.

Maka dari itu, untuk adik-adik yang lulusan SMA dan kebetulan sedang menjadi TKI, maka segera rencanakan untuk melanjutkan kuliah setelah selesai menjadi TKI. Tempat kuliah yang memungkinkan yaitu di perguruan tinggi swasta. Karena, perguruan tinggi swasta tidak ada pembatasan umur. Berapapun boleh, yang penting sehat.

Untuk Depnaker, diharapakn ada pelatihan untuk TKI setelah TKI itu kembali ke Tanah air. Jangan sampai setelah kembali ke tanah air jadi pengangguran lagi. Selain itu, perhatikan juga PJTKI yang nakal, tak sedikit mereka menyalurkan TKI di bawah umur, atau dengan menjanjikan hal-hal yang manis kepada calon TKI padahal nyatanya ‘pahit’.

Untuk sekolah swasta, hati-hati, tak sedikit PJTKI yang membohongi kerjasama dengan dalih PKL untuk siswa-siswi, padahal mereka (PJTKI) hanya ingin meraup keuntungan sebelah pihak dari kerjasama itu. Saya punya pengalaman lapang terkait hal ini. Kalaupun pihak sekolah tertentu mau berkonsultasi mengenai masalah PJTKI seperti itu, saya siap membantu.

Kembali pada filosofi utama:

“Ilmu adalah investasi yang paling menjanjikan”.

“Tak pernah merasa rugi akibat bersekolah”.

Semoga berkah.

(Masjid Al-Hurriyyah, Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor, 11 // oktober//2013)

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

2 Responses to MASA DEPAN TENAGA KERJA INDONESIA

  1. Rocky Winata mengatakan:

    wah, sebuah postingan yang menarik tentunya ini.
    Salam hangat dari warga sempadan Seluas, Kab. Bengkayang, Kalbar – Serikin, Serawak, Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: