JENIS KAYU AKASIA (Acacia mangium, A. crassicarpa, A. decurent) dan EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) UNTUK KAYU LAPIS (plywood).

Oleh Rudi Hermawan, SHut., MSi.

Gedung Manggala Wanabakti, Lantai 5, Ruang Rapat PHPL, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jakarta, 12 Mei 2016.

Selama melakukan rapat terkait pembahasan PROPOSAL TEKNIS PERMOHONAN IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (IUPHHK-HTI) suatu unit manajemen yang hendak membuat hutan tanaman industry (HTI) di Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kapuas Hulu, dan luasan sekitar 32.931,9 Ha, terdapat diskusi mengenai jenis yang akan ditanam. Jenis yang akan ditanam diantaranya kayu akasia, sengon, jabon, dan eukaliptus. Dengan tujuan produksi yaitu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam pembuatan kayu lapis (plywood). Dari anggota rapat, terdapat perwakilan dari peserta rapat yang menyangsikan terkait jenis Akasia dan Eukaliptus jika dibuat untuk kayu lapis (plywood). Peserta tersebut menyatakan bahwa, unit manajemen yang akan menanam kayu Akasia dan Eukaliptus harus berhati-hati dengan akasia dan eukaliptus, karena jenis itu bentuk pohonnya yang tidak teratur dan cenderung seratnya melilit tidak beraturan. Dari pernyataan tersebut, pihak unit manajemen hanya bisa meresponnya dengan menyatakan bahwa terkait jenis akasia dan eukaliptus akan ditinjau kembali. Jika prospeknya baik maka akan dilanjutkan, dan sebaliknya.

Berdasarkan hasil rapat yang membahas tentang jenis akasia dan eukaliptus, saya tidak sempat berbicara karena bertindak sebagai operator computer mewakili pihak konsultan. Tidak ada media lain selain blog ini untuk mengungkapkan pendapat dan pengetahuan saya. Berdasarkan pengetahuan saya yang didukung oleh pengamatan di lapangan selama sekitar 2 (dua) tahun di pabrik kayu lapis di Sarawak Malaysia, bahwa jenis Akasia dan Eukaliptus itu bisa dijadikan bahan untuk membuat kayu lapis (plywood). Serawak sendiri menyediakan bahan baku akasia dan Eukaliptus-nya dengan cara mengeksport dari Australia. Selain dari Australia, untuk jenis Akasia sepertinya dari Indonesia juga. Untuk eksport Serawak dari Indonesia, belum dipastikan kebenarannya, tapi saya berasumsi bahwa di Indonesia banyak sekali HTI (Hutan Tanaman Industri) yang menanam Akasia untuk bahan baku kertas. Tidak sedikit kemungkinan bahwa akasia yang awalnya untuk bahan baku kertas, malah bisa juga dieksport ke Malaysia untuk bahan baku kayu lapis (plywood). Meskipun demikian, yang utama dalam bahasan ini buka dari mana asalnya akasia yang ada di pabrik-pabrik kayu lapis Serawak, tetapi yang utama lebih kepada bisa tidaknya akasia dan eukaliptus dijadikan kayu lapis (plywood).

Akasia  jika ditinjau dalam proses pembuatannya untuk plywood, maka baik untuk bahan core saja. Jika Akasia dijadikan bahan untuk face dan back maka cenerung pecah-pecah. Pecahan veneer tersebut bisa mencapai maksimal lebar 1 (satu) senti meter (cm), dan paling banyak pecahannya lebar sekitar 2  mili meter (mm). pecahan berlaku menyebar secara merata di seluruh permukaan veneer. Selain itu, terdapat juga masalah yaitu di bagian mata kayu. Mata kayu yang muncul dari bekas percabangan atau ranting yang besar. Bekas mata kayu tersebut, cenderung terlepas dari bagian veneer setelah veneer mengering. Berdasarkan terkelupas atau terlepasnya mata kayu di veneer maka tidak jarang, veneer akasia yang akan dijadikan core itu harus ditambal (repaired).

Diketahui bahwa semakin banyak tambalan maka semakin menutun kualitas kekuatan kayu lapis yang dihasilkan. Kekuatan tersebut diantaranya kekuatan tariknya. Kayu lapis yang terbentuk cenderung kurang tahan dibanding kayu lain yang sedikit tambalan (repair) core-nya. Hal itulah yang kondisi negatifnya. Meskipun demikian, kayu lapis dari akasia masih bisa dikerjakan sehingga konsumen Jepang dan China masih bisa menerimanya di pasaran.

Berbeda dengan akasia, jenis eukaliptus baik juga digunakan sebagai bahan kayu lapis. Struktur serat kayu dari veneer yang dihasilkan dari eukaliptus cenderung retak-retak tetapi relatuf lebar retakannya lebih sempit dibanding akasia. Mungkin bisa dikatakan hanya reta-retak. Retakan struktur serat veneernya menyebar di seluruh permukaan veneer. Kelemahan lain dai eukaliptus yaitu adanya resin pada veneer yang dihasilkan. Eukaliptus ini sebagaimana kayu putih bisa menghasilkan cajuput oil, atau resin cajuput. Resin inilah yeng menghambat tingginya kualitas kekuatan tarik dari kayu lapis berbahan eukaliptus. Meskipun demikian, di beberapa pabrik di Sarawak, masih bisa mengolah eukaliptus ini menjadi kayu lapis, baik core maupun face dan back, asal dengan suhu dan kelebaban vener terkontrol.

Demikian pemaparan saya yang berdasarkan pada pengamatan selama sekitar 2 (dua) tahun di beberapa pabtik kayu lapis (plywood) di Sarawak Malaysia. Semoga bermanfaat. Bagi stakeholder yang membutuhkan informasi lebih jauh, bisa menghubungi di email saya yaitu rudihermawanipb@gmail.com atau di nomor telpon saya di 085775970232.

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: