HUTAN DI KAMPUNGKU ANTARA TAHUN 1994 SAMPAI 2000

English: Boiled and opened Arenga pinnata frui...

English: Boiled and opened Arenga pinnata fruit, showing its endosperm. Sirnarasa, Sukabumi, West Java, Indonesia Bahasa Indonesia: Buah dan biji aren (Arenga pinnata) yang telah direbus, untuk dibuat kolang-kaling. Desa Sirnarasa, Kec. Cikakak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

Mau nulis di blog itu, kadang bingung, harus di masukan ke kategori tulisan apa. Tapi tidaklah masalah, yang penting menuangkan ide.

Entah kenapa teringat hutan pada tahun itu? Sehinggaa membawaku untuk membuka leptop, kemudian menarikan jari jemari di atas key board. Hutan di sekitar kampungku pada tahun 1994 sampai tahun 2000, sangatlah masih alami. Kampung yang ku maksud Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

IBU, KAPAN KITA KE MALL BARENG..?

Waktu itu, langit Jakarta mulai meredup, maklum hari terus bergerak menuju sore hari. Tepatnya kalau diukur memakai waktu adzan yang suka berkumandang di masjid, seperti di Masjid An Nur, Kali Pasir Menteng, kira-kira waktu mau menjelang asyar. Tepat waktu itu juga, seonggok daging bernyawa, tengah merenung di bilik kontrakan. Kebetulan waktu itu pekerjaan dia di kantor telah usai. Waktu kerja dia ternyata hari itu hanya sampai pukul 12 siang. Selepas waktu itu, dia Baca pos ini lebih lanjut

Ketika Anak Kampung Besekolah

Memang, dalamnya laut bisa diukur, nasib seseorang siapa tahu… Itu mungkin peribahasa yang cocok untuk seorang anak, yang kesehariannya mau terus bersekolah, kecuali hari libur,, hehe..

Mari kita baca dulu, koran KOMPAS, terbitan 19 November 2011, sebagai berikut teman-teman..

MERAUKE, KOMPAS.com – Upaya penyelesaian berbagai persoalan di Papua harus mengedepankan adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat, serta budaya masyarakat adat Papua.

Tanpa hal itu, penyelesaian masalah Papua tidak akan tuntas meskipun dilakukan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Hargai dan hormati masyarakat Papua sebagai manusia sejati, s ebagai manusia yang lebih awal tinggal di tanah Papua. Ini yang sejak dulu terabaikan, ungkap Stanislaus Gebze, Ketua Dewan Adat Papua Wilayah V Animha Merauke.

Stanislaus menuturkan, persoalan Papua tidak semata-mata s oal ketertinggalan dan minimnya kesejahteraan ekonomi warga namun merupakan akumulasi berbagai persoalan kronis puluhan tahun, seperti ketidakadilan dan juga minimnya penghormatan terhadap martabat dan budaya masyarakat adat.

Akibatnya, masyarakat adat merasa diabaikan dan disisihkan dari tanahnya sendiri. Karena itu, pendekatan kesejahteraan saja tidak akan menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. Kenali manusianya seperti apa, adatnya, budayanya seperti apa, hormati dan hargai itu mereka, katanya.

Menurut Stanislaus, jalan dialog harus ditempuh hingga tingkat paling bawah untuk menumbuhkan rasa saling memahami maupun menghilangkan saling curiga.

Dialog itu juga penting untuk menemukan formula baru penyelesaian masalah P apua selain formula otonomi khusus (otsus). Pelaksanaan otsus selama 10 tahun dinilai telah gagal karena tidak dirasakan berpihak langsung kepada masyarakat adat.

Kehidupan sehari-hari seorang Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia

Ah.., tak terasa sudah pagi lagi ni.., hehe.. selamat pagi matahari, kau tak pernah kesiangan bangun hya matahari.. hehe.. ku jadi malu, karena ku kadang kesiangan bangun, padahal esok hari harus tepat waktu untuk masuk pabrik. Ya.., beginilah kehidupan seorang Tenaga Kerja Indonesia.., ada asyik ada tidaknya.., tapi.., semoga lah barokah walafiah.., hehe.., aamiin ya Alloh..

hehe.., emang tetap saja ada sesuatu yang menarik untuk ditelisik. Suatu saat, malam jum’at waktu itu, ku ikut yasinan di masjid, orang Serawak menyebut masjid dengan ‘surau’, kebetulan ada kumpul-kumpul untuk menikmati makanan alakadarnya di masjid.  Di perkumpulan terebut, para TKI yang sempat ikut yasinan ya dapet makanan, dan bisa sharing (berbagi cerita) dengan TKI yang Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: