MENGHANGATNYA ISU GAMBUT DI DUNIA

Oleh: Rudi Hermawan E451120061

Isu pemanasan global begitu menarik untuk dicermati. Menurut Indriastuti (tanpa tahun) Sejak 1850 gletser Alpine telah kehilangan lebih dari 2/3 dari volume aslinya. Pada tahun 2100, diperkirakan hanya 5% gletser yang akan bertahan. Suhu tinggi juga memiliki pengaruh besar terhadap produksi hasil panen. Suhu hangat akan menyebabka Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

MANAJEMEN SPESIES INVASIF AKASIA BERDURI (Acacia nilotica (L.) Willd. ex. Del) DI TAMAN NASIONAL BALURAN, BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Oleh: Rudi Hermawan, Cory Wulan, Julius P. Siregar, Anisa Agustina

 

Makalah ini disusun berdasarkan kondisi dalam kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur dimana padang Rumput/ Savana sebagai Ekosistem penting yang merupakan ciri khas dari taman nasional tersebut telah terinvasi tumbuhan Akasia berduri (Acacia nilotica). Tumbuhan Akasia berduri yang ada di dalam kawasan taman nasional telah mengakibatkan berbagai jenis rumput-rumputan yang merupakan pakan bagi satwaliar di dalam kawasan tidak dapat Baca pos ini lebih lanjut

KONSEP HCVF (HIGH CONSEVATION VALUE FOREST)

Konsep HCVF atau Hutan Bernilai Konservasi Tinggi muncul pada tahun 1999, sebagai ‘prinsip 9’ dari standar pengelolaan hutan yang berkelanjutan oleh Majelis Pengurus Hutan (Forest Stewardship Council/ FSC). Konsep HCVF didisain dengan tujuan untuk membantu para pengelola hutan dalam usaha-usaha peningkatan keberlanjutan social dan lingkungan hidup dalam kegiatan produksi kayu dengan menggunakan pendekatan dua tahap, yaitu:

  1. Mengidentifikasi areal-areal di dalam atau di dekat unit pengelolaan (UP) kayu yang mengandung nilai-nilai social, budaya, dan/atau ekologis yang luar biasa penting, dan Baca pos ini lebih lanjut

ANTARA DELMAK, KAR, DAN DELMIK

DELINIASI

Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.3/Menhut-II/2008  secara tegas mengamanatkan bahwa Pemegang Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) harus melaksanakan deliniasi secara makro untuk seluruh areal kerja dan deliniasi mikro terhadap bagian areal kerja yang masih berupa hutan alam bekas tebangan (logged over area, LOA). Pelaksanaan kegiatan deliniasi  ini dimaksudkan untuk Baca pos ini lebih lanjut

JENIS-JENIS FLORA DAN FAUNA SERTA ANCAMAN TERHADAP KELESTARIANNYA DI CAGAR ALAM SUKAWAYANA, PALABUHAN RATU, SUKABUMI, JAWA BARAT

Oleh: Rudi Hermawan

Cagar Alam Sukawayana (CAS) merupakan salah satu Cagar Alam yang berada di bibir pantai Karang Hawu, Palabuhan Ratu. Hasil penelitian penulis, pada Juni 2009, secara administrative Kawasan CAS berada di Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Letak CAS yaitu terletak di di barat berbatsan dengan Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, di utara berbatasan dengan Perkebunan PTPN VIII Pasir Badak, Desa Sukamaju, di timur berbatasan dengan Desa Citepus, Baca pos ini lebih lanjut

Ketika Anak Kampung Besekolah

Memang, dalamnya laut bisa diukur, nasib seseorang siapa tahu… Itu mungkin peribahasa yang cocok untuk seorang anak, yang kesehariannya mau terus bersekolah, kecuali hari libur,, hehe..

Mari kita baca dulu, koran KOMPAS, terbitan 19 November 2011, sebagai berikut teman-teman..

MERAUKE, KOMPAS.com – Upaya penyelesaian berbagai persoalan di Papua harus mengedepankan adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat, serta budaya masyarakat adat Papua.

Tanpa hal itu, penyelesaian masalah Papua tidak akan tuntas meskipun dilakukan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Hargai dan hormati masyarakat Papua sebagai manusia sejati, s ebagai manusia yang lebih awal tinggal di tanah Papua. Ini yang sejak dulu terabaikan, ungkap Stanislaus Gebze, Ketua Dewan Adat Papua Wilayah V Animha Merauke.

Stanislaus menuturkan, persoalan Papua tidak semata-mata s oal ketertinggalan dan minimnya kesejahteraan ekonomi warga namun merupakan akumulasi berbagai persoalan kronis puluhan tahun, seperti ketidakadilan dan juga minimnya penghormatan terhadap martabat dan budaya masyarakat adat.

Akibatnya, masyarakat adat merasa diabaikan dan disisihkan dari tanahnya sendiri. Karena itu, pendekatan kesejahteraan saja tidak akan menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. Kenali manusianya seperti apa, adatnya, budayanya seperti apa, hormati dan hargai itu mereka, katanya.

Menurut Stanislaus, jalan dialog harus ditempuh hingga tingkat paling bawah untuk menumbuhkan rasa saling memahami maupun menghilangkan saling curiga.

Dialog itu juga penting untuk menemukan formula baru penyelesaian masalah P apua selain formula otonomi khusus (otsus). Pelaksanaan otsus selama 10 tahun dinilai telah gagal karena tidak dirasakan berpihak langsung kepada masyarakat adat.

KEARIFAN LOKAL NUSANTARAKU

Bahasa Indonesia: Orang suku Asmat dari Papua,...

Bahasa Indonesia: Orang suku Asmat dari Papua, foto diambil di TMII, Jakarta (Photo credit: Wikipedia)

Basa Sunda: salah sahiji juru kampung di Kanek...

Basa Sunda: salah sahiji juru kampung di Kanekes, Baduy (Photo credit: Wikipedia)

English: A family of Baduy, Banten Indonesia.

English: A family of Baduy, Banten Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

by Rudi Hermawan Oke on Sunday, July 10, 2011 at 9:16am

Dengan beragamnya budaya, maka beragam pula cara menghadapi suatu masalah terkait keperluan hidup. Misal, dalam mengobati suatu penyakit sakit sariawan (barusuheun; Bahasa Sunda). Penyakit tersebut di Sulawesi Selatan bisa memakai getah kayu lame (alstonia scholaris), di Jawa Barat biasa memakai getah kayu kalapa tiung (nama ilmiah belum dicari). Dari contoh itu, bisa diprediksi bahwa, betapa banyaknya ragam potensi untuk mengobati suatu penyakit, sehingga jika suatu sumberdaya habis, maka bisa beralih ke sumberdaya yang lain untuk mengobati suatu penyakit tersebut, dengan syarat, harus mengetahui terlebih dahulu cara-cara Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: