GAMBARAN PASAR TRADISIONAL DI SIBU SARAWAK, MALAYSIA

Kami menyempatkan berjalan-jalan, dalam rangka mengisi hari libur Nasional Malaysia, yaitu peringatan HARI GAWAI bagi Suku Dayak, yang jatuh pada 1, 2, dan 3 Juni. Kami jalan-jalanu berdua bersama teman kami bernama Mas Slamet, dia berasal dari Jepara. Perjalanan pertama dimulai dengan harus menyebrang sungai dulu, baru setelah itu bisa menemukan angkutan umum, yaitu berupa mobil colt, atau mobil pribadi yang disewakan dengan cara carter.

Setelah naik kendaraan umum, kemudian kami berjalan-jelan sejenak, dan langsung mencari pasar tradisional. Niat kami ke pasar tradisional, diantaranya untuk hunting foto, jalan-jalan, cuci dompet, dan lain-lain. Pas hunting foto, pake kamera digital saku, ideku malah muncul untuk mengambil sejumlah gambar yang bertemakan ‘pasar tradisional di Sibu, Sarawak’. Selama mengambil gambar, kami berdua ngobrol, dan membanding-bandingkan pasar tradisional Sarawak, dengan pasar tradisional di Indonesia. Hasil dari obrolan itu, kami hanya bisa mengelus dada dan menelan ludah, betapa banyak yang harus dibenahi di negeri kami, di antaranya keadaan pasar tradisionalnya.

Inilah gambar-gambar yang kami ambil. Adapun gambar diambil dengan cara sembunyi-sembunyi, dengan cara menipu, dengan cara sengaja, dan ada pula yang diambil dengan secara setengah sengaja.., hehe..

PASAR MALAYSIA

inilah foto satu.. :)

kemudian…,

Inilah foto Pasar yang ke dua. Maksud foto ini bukan orangnya, tapi backgraoundnya yg penting. Yang berdiri adalah orang yg menemaniku jalan-jalan, Mas Slamet.. :)

Lanjuuuuut…,

inilah gambarab yang ketiga.., masih Mas Slamet terpampang, Lihat saudara-saudara, lantainya bersih, masih bisa buat dipakai rengekan oleh anak-anak yang minta jajan tapi gak dikobul.., hehe.. :)

Teruuuus..,

This slideshow requires JavaScript.

Masiih..,

Pasar Sarawak

Barang yang akan dijual disusun secara telaten.. :)

Lanjutkan..!!,

Ayam-ayam saja sampai dibungkus satu demi satu, sehingga kebersihannya terjaga.. :)
Bravo Sarawak..

Continue..

Masih, si ayam yang dibalut selimut.., hehe.. :)

Yang kami lihat, pasar tradisional itu, lantainya dari keramik atau sebagian dari ubin, kemudian para pedagangnya menggelar dagangannya dengan rapid an bersih. Lihat saja, ayam hidup saja tidak dilepas begitu saja sodara.., hehe.., tapi dibungkus pake Koran satu-satu. Iya, kami tidak lupa, pernah lewat juga ke sebuah sudut pasar, dan ternyata di sana kami baru menemukan bau comberan, dan itu baunya mungkin hanya beradius 2 meter saja, tempat pembuangan cucian daging dan tempat penyimpanan keranda ayam. Tapi itu pun, tidaklah mengganggu, karena radius baunya hanya 2 meter. Selain tempat bau itu, tidak ada lagi tempat bau yang lain. Kami mencari tempat yang becek seperti beceknya lorong antar meja pasar di pasar tradisional Indonesia, tapi kami tidak menemukan. Semua lorongnya bersih, berkeramik. Kemudian kami lihat, para pedagangnya dominan Keturunan China. Adapun keturunan Melayu paling 30% saja dari jumlah total pedagang di pasar tersebut.

Semoga gambar-gambar yang kami hadirkan ini menjadi inspirasi untuk perkembangan pasar tradisional di Indonesia. Karena kami berfikir, Indonesia bisa lebih baik dari Negara manapun, asal mau berkaca dari pengalaman. Masalah berkaca dari pengalaman ini, pernah Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Rajak menyatakan, “mari kita rancang kemajuan Negara kita, dengan belajar dari kegagalan Negara-negara lain yang ada di dunia, untuk Malaysia yang lebih baik”. Indonesia juga kenapa tidak.. J

Kendala dari sekitar pasar tradisional itu, yaitu susahnya mencari masjid. Kalau gereja terlihat jelas, klenteng juga terlihat jelas. Kami sempat tak habis fikir mengenai tempat sarana ibadah itu. Kok susah dicari ya? Hehe.. Kalau di Indonesia kita senang sekali mencari tempat ibadah itu, di mana-mana ada mushola, masjid juga jelas.

Terus mengenai keadaan sekitar pasarnya, trotoar untuk pejalan kaki masih juga sempit, sama seperti Indonesia. Cuman di sini, di sepanjang jalanan tidak akan menemukan pedagang kaki lima, dan kalau mampir di warung nasi, maka tidak akan mengalami didekati oleh pengamen jalanan, karena pengamen di Sarawak, dan Malaysia pada umumnya adalah dilarang.

Iya, yang terakhir dan mungkin menarik kalau diterapkan di Indonesia, yaitu saya dapat kabarbahwa, kalau membuang sampah di setiap tempat di kota Sibu, Sarawak itu, akan didenda oleh Satpol PP yang terus berkeliaran tiap hari. Satpol PP tersebut memeriksa ketertiban kota, dari hal kecil sampai hal besar. Denda untuk yang membuang sampah sembarangan yaitu 50 Ringgit, atau sekitar sama dengan 150 ribu rupiah kalau dikurskan.. J

Iya, masih ada informasi lain. Di pasar tradisional Sarawak merupakan pandangan biasa kalau melihat beberapa bahan pokok yang dijajakan adalah hasil petik langsung dari hutan. Misal, pakis, poh-pohan, lengkuas, jahe, buluh bambu untuk lemang, buah rotan, dan lain sebagainya. Nuansa pasar tradisional itu benar-benar terasa nuansa tradisinya. Jadi bahan-bahan yang dijajakan itu masih didominasi oleh bahan local. Adapun bahan-bahan import masih jarang.

Semoga bermanfaat.. :)

About these ads

Perihal Rudi Hermawan
Ku dilahirkan di daerah terpencil, jauh dari keramaian. Beberapa puluh tahun kemudian baru tahu keramaian kota. Dan dari keadaan tersebut sedikit banyak mewarnai gaya tuturku dalam tulisan. Tapi, siapapun itu orangnya yang membuat tulisan, tidak terlalu perlu untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah isi pesan dari tulisan itu. Semoga bermanfaat.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: